Masjid Taman Sriwedari Bakal Jadi Ikon Akulturasi Budaya Islam Jawa

0Shares

SOLO – Masjid Taman Sriwedari Surakarta (MTSS) bakal menjadi ikon akulturasi budaya Islam Jawa yang sempurna. Setiap detail bangunan hingga pemilihan bahan yang digunakan mengandung makna sangat dalam.

Direktur Perencana MTSS Yunanto Nugroho merinci mulai dari bagian atap masjid yang berdiri di lahan seluas 17.200 meter persegi tersebut. Rencananya jenis atap MTSS adalah atap tajug. Yakni atap yang berbentuk piramida atau limas bujur sangkar, yaitu dasar persegi empat sama sisi dan satu puncak. Atap tajuk biasanya digunakan untuk bangunan suci di Asia Tenggara termasuk Indonesia.

“Di Masjid Sriwedari akan menggunakan Atap Tajuk bersusun tiga, sebagai pengejawantahan dari hirarki Islam, iman dan ikhsan. Dan sebagai perwujudan patju pat lima pancer pada inti bangunan Jawa,” paparnya. Demikian dilansir radar solo.

Tak hanya atap, bagian lantai masjid juga dibuat dengan filosofi Islam dan Jawa yang kental. Terdapat tiga undakan dari pelataran, serambi hingga ruang salat utama. Pelataran masjid memiliki undakan paling rendah, disusul dengan undakan serambi yang lebih tinggi.

Undakan paling tinggi adalah ruang utama yang digunakan sebagai salat. Yunanto menyebut undakan-undakan tersebut mengandung maksud sebagai capaian seseorang dari profan menuju tingkatan paling tinggi yang sacral. Tingkatan-tingkatan tersebut juga dibedakan dengan perbedaan bahan yang digunakan.

“Namun nantinya semua undakan tersebut dapat digunakan sebagai salat. Misalnya salat Idul Fitri dengan jumlah jamaah yang banyak. Ruang utama mampu menampung 1.000 jamaah, serambi 1.310 jamaah dan pelataran dapat menampung 5.370 jamaah. Total seluruh bagian masjid dapat menampung sekitar 7.680 jamaah,” urainya.

Selain atap dan lantai, MTSS juga bakal menggunakan ornament penuh filosofi. Salah satu yang bakal diterapkan dalam masjid dengan menara utama tertinggi di Indonesia itu adalah ragam hias yang ada di Bangsal Witana. Bangsal Witana merupakan sebuah ruang di Siti Hinggil Keraton Kasunanan Surakarta. Beberapa ragam hias yang biasa ada di Bangsal Witana yakni padma, saton, lidah api, banyu tetes dan putri lenggah. Selain itu ada tumpal, mustaka, panah dan kaligrafi Arab.

“Patran adalah lambing kesempurnaan. Jenis ukiran tersebut akan diaplikasikan pada lambesering dengan bahan tembaga. Kemudian padma sebagai lambing kesucian akan ditempatkan pada umpak pada saka dengan pahatan pada batu atau marmer dengan warna hitam kecokelatan, emas, dan merah,” jelas Yunanto.

Sementara saton berfungsi menambah keindahan saka ditempatkan di tiang di atas umpak dengan ukir kayu berwarna emas dengan latar merah. Lidah api sebagai simbol kekuatan cahaya akan ditempatkan di saka dengan ukir pada tiang berwarna cokelat, kuning emas dan merah. Banyu tetes meggambarkan cahaya yang menimpa tetesan air hujan di genting yang berderet indah akan dipasang pada list plank dengan ukir kayu. []

“Semuanya secara detail mengandung makna yang sangat dalam. Termasuk kaligrafi Arab. Meski tidak banyak ditemukan di Keraton Surakarta, namun ada ragam hias stilasi huruf syin di tengah-tengah. Artinya adalah Asy-Syakuur atau Maha Pembalas Jasa,” jelasnya.

Yunanto memastikan pembuatan detail ornamen telah melalui kajian yang matang oleh ahli melibatkan berbagai tokoh dari berbagai unsur di Kota Surakarta. []