Menu Close

Sambut Lailatul Qadar Keraton Kasunanan Gelar Malam Selikuran

0Shares

SOLO – Tepat sepuluh hari terakhir Ramadan, Keraton Kasunanan Surakarta menggelar Hajad Dalem Malam Selikuran, Sabtu malam (25/5). Kegiatan serupa digelar Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Solo.

Dilansir radar solo, irama gamelan mengiringi langkah ratusan prajurit keraton yang melakukan kirab dari Kori Kamandungan menuju Masjid Agung Surakarta usai salat Tarawih.

Barisan terdepan adalah abdi dalem agama atau barisan ulama yang mengenakan beskap warna putih. Menyusul abdi dalem prajurit dengan panji-panji kebesaran keraton. Di belakangnya ada abdi dalem pembawa lampion beragam bentuk dan ukuran. Rombongan ini paling banyak menyita perhatian.

Setibanya di Masjid Agung, seribu tumpeng ditata sedemikian rupa lalu didoakan ulama keraton. Usai pembacaan doa, abdi dalem dan masyarakat langsung mendekat untuk berebut nasi tumpeng yang dianggap membawa berkah. Dalam sekejap, nasi tumpeng ludes.

“Dapat dua (nasi tumpeng, Red), ini mau saya bawa pulang untuk makan sahur,” ujar Faisal Cahya, 25.  Menurut warga Kecamatan Baki, Sukoharjo itu, bungkusan nasi tumpeng dari keraton berisi nasi uduk, tiga butir telur puyuh, potongan mentimun, kedelai hitam dan cabai hijau besar.

Salah seorang adik Raja Keraton Surakarta, KGPH Dipokusumo mengatakan, tradisi tersebut sudah ada sejak zaman Sunan Kalijaga saat menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Kemudian diteruskan Raja Mataram Islam Sultan Agung dan bertahan hingga saat ini.

“Tumpeng sewu dan lampion merupakan simbol datangnya Lailatul Qadar atau malam yang lebih baik dibandingkan seribu bulan,” jelasnya.

Tumpeng Sewu, imbuhnya, juga melanbangkan konsep berbagi rezeki oleh raja pada masyarakat. “Banyak filosofi y dalam setiap isian nasi berkat yang dibagikan. Semuanya melambahkan rasa syukur atas kebaikan yang diberikan Allah SWT,” jelas dia.

Kegiatan serupa juga digelar LDA Keraton Solo di lokasi yang sama. Meskipun ada dua versi, tradisi tersebut tetap meriah dan mendapat apresiasi masyarakat. “Kalau dobel ya makin banyak berkahnya,” ucap Nardi Waluyo, salah seorang warga.

Peringatan Lailatul Qadar versi LDA digelar usai kegiatan Bebadan Dalem Keraton Kasunanan Surakarta selesai. “Siapa pun kan boleh melakukan upacara adat. Malah semakin banyak yang mangayubagyo (merayakan, Red) semakin baik,” jelas Ketua Eksekutif Lembaga Hukum LDA Keraton Surakarta K.P. Eddy Wirabhumi.

Sebelum menuju Masjid Agung, kirab ala LDA Keraton terlebih dahulu mengelilingi Kampung Baluwarti. “Kalau zaman PB (Paku Buwono)  X memang memutar di Baluwarti. Tapi lepas dari itu semua, tidak jadi soal mana yang paling benar. Saat ini mengadakan sendiri-sendiri tidak masalah. Harapannya ke depan bisa mengadakan upacara adat bersama-sama,” tutup Eddy. []