Ponco Sudah Keluar dari Polda Metro Jaya dan Kembali ke Keluarga

0Shares

JAKARTA, (Pancaran.net)Merahputih.com mengucapkan terima kasih pada berbagai pihak, LBH Pers, LBH Jakarta, Jurnalis, Forum Wartawan Polisi, para aktivis dan berbagai pihak yang ikut mencari saat Jurnalis Merahputih Ponco Sulaksono, yang sempat dinyatakan hilang kontak sampai proses pemulangan dari Mapolda Metro Jaya,  Jumat (9/10).

“Kondisi Ponco saat ini sehat dan sudah berada bersama keluarga. Terima kasih atas perhatian semua pihak,” ujar Pimpinan Redaksi Merahputih Thomas Kukuh dalam keterangan pers, Sabtu (10/10).

Sebelumnya, Jurnalis Merahputih.com atas nama Ponco Sulaksono yang bertugas meliput aksi Demonstrasi Penolakan UU Omnibus Law di kawasan Monas Gambir Jakarta Pusat, diamankan oleh Kepolisian Metro Jaya di Pos Polisi Monas dan Polda Metro Jaya, mulai Kamis (8/10) jam 18.00 sampai Jumat (9/10) jam 20.15.

Saat bentrokan pecah di Gambir, Ponco berada Halte Gambir. Tetapi tiba-tiba, untuk mengurai massa yang sudah melempar benda-benda tertentu dan batu pada polisi, lalu polisi menembakan gas air mata.

“Saya berlari dan terjatuh, sehingga mengalami luka memar di wajah. Saat saya terjatuh di pertigaan Pejombon, saya ditolong dan dilindungi anggota Brimob, namun tiba-tiba datang petugas berpakaian preman yang menyerang dan lalu mengamankan saya, walau saya bilang saya wartawan dan menunjukan ID,” ujar Ponco.

Ponco lalu dibawa ke pos polisi di Lapangan Monas sekitar pukul 18.00. Di sana, Ponco harus membuka baju dan jaket yang dia kenakan lalu alat komunikasinya diamankan kepolisian dan mengalami intimidasi.

baca: Jurnalis Merahputih.Com Hilang Saat meliput Aksi Demoi Penolakan UU Omnibus Law

Alat komunikasi yang diamkan polisi, membuat Ponco tidak bisa berkomunikasi dengan tim redaksi. Dalam catatan Merahputih.com, terakhir Ponco Sulaksono mengirim berita melaporkan situasi demo penolakan UU Omnibus Law di kawasan Gambir ke redaksi 15.14 WIB.

Merahputih.com menyesalkan aksi kekerasan dan intimidasi pada jurnalis diberbagai wilayah seperti di Jakarta dan Surabaya, saat melakukan tugas jurnalistiknya.

Seperti diketahui, kerja jurnalis dilindungi Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Pasal 4 UU Pers mengatur bahwa pers nasional berhak mencari, memperoleh, mengolah, dan menyebarluaskan informasi.

Sementara pasal 18 mengatur bahwa setiap orang yang menghambat atau menghalangi kerja jurnalistik akan diancam pidana maksimal dua tahun penjara atau denda paling banyak Rp500 juta.

“Kami berharap, aparat kepolisian memahami tugas jurnalis terutama saat ada bentrokan terjadi. Penahanan dan intimidasi pada jurnalis tidak dibenarkan,” ujarnya.