Task Commitment

0Shares

(Pancaran.net) – Benih-benih matahari. Bau ladang rembang pagi//Menunggu kelahiran rembulan Februari: di remah-remah waktu//di pecahan-pecahan batu, kulahirkan kembali biru jiwaku1

Ba’da shalat, tiap kali melantunkan doa Nabi Ibrahim a.s., “rabbii hablii min ladunka dzurriyyatan thayyibah…”, permohonan itu selalu hadir: dikaruniai anak keturunan yang baik dan shalih. Barangkali, doa khusyuk dan paling tulus yang bisa kita panjatkan—salah satunya—adalah tentang anak. Tidak ada orang tua yang tidak ingin anaknya menjadi baik. Begitulah, memiliki anak-anak yang lahir dan tumbuh sepenuhnya adalah dambaan setiap orang tua. Anak-anak yang halus budi pekertinya, lembut adab akhlaknya, demikian juga tumbuh sempurna akal dan jasad mereka.

Sering kali, dalam perjalanan merawat benih-benih matahari itu (istilah Jamal D. Rahman) kita akan menemukan banyak rupa alang. Rintangan dan masalah yang justru membuat kita, orang tua, harus terus merasa “lapar” dalam memahami dan mempraktikkan beragam pola pengasuhan. Sebab pola pengasuhan A yang tepat untuk Si Kakak tidak sepenuhnya tepat jika diterapkan pada Si Adek. Meskipun, banyak pola umum yang bisa diterapkan untuk semua anak. Namun, karena keunikan masing-masing penciptaan mereka lah—sehingga membutuhkan desain pengasuhan yang berbeda pula—menuntut kita untuk terus berbekal. Sebab zaman terus berjalan, demikian halnya, tantangan dalam mengasuh anak-anak akan berganti seiring berjalannya hari.

Ayah Bunda, pada bahasan kali ini, saya ingin sedikit mengulas permasalahan yang acapkali kita hadapi. Si Kakak termasuk anak yang pintar dan kreatif, tapi kenapa tidak berprestasi maksimal? Si Adek termasuk cepat dalam menangkap pelajaran, tapi kok tidak masuk peringkat teratas? Pinter, tapi prestasinya biasa-biasa saja? Dan, beberapa pertanyaan serupa lainnya. Respons kita sebagai orang tua pasti berbeda-beda ketika menemukan kondisi tersebut. Perbedaan itu terjadi karena kita memiliki pemahaman dan sudut pandang yang berlainan dalam melihat akar masalah.

Dari sekian banyak sudut, mari kita memandang akar masalah itu dari satu kajian tentang keberbakatan (giftedness) yang dikembangkan oleh Renzulli (2005). Renzulli adalah seorang tokoh psikologi pendidikan yang mengkhususkan studinya tentang keberbakatan. Ia mengemukakan teori “Three Ring Conception of Giftedness” yang menyatakan bahwa agar anak mencapai puncak keberbakatannya maka dibutuhkan tiga hal, yaitu: kemampuan di atas rata-rata (above average ability), kreativitas (creativity), dan komitemen menyelesaikan tugas (task commitment). Ketiga hal itu sama pentingnya dan saling berkaitan.

Penjelasan ringkasnya, above average ability berkenaan dengan kecerdasan dan tingkat inteligensia. Misalnya kemampuan seorang anak dalam menangkap dan mengolah informasi pengetahuan atau menampilkan jenis keterampilan khusus yang dikuasainya. Kemampuan ini bisa diukur melalui serangkaian tes atau (secara sederhana) dapat diamati secara langsung oleh Ayah Bunda. Perkembangan anak-anak dalam proses belajar biasanya menjadi informasi awal apakah kemampuan anak kita termasuk di atas rata-rata atau tidak. Creativity berkaitan dengan rasa keingintahuan yang tinggi, orisinalitas, keunikan, cara-cara baru (atau berbeda dari tradisi biasanya), dan inovasi yang memberikan nilai tambah. Sedangkan, task commitment berkenaan dengan komitmen yang dimiliki anak dalam menyelesaikan tugas/pekerjaan. Hal ini biasanya berhubungan dengan kedisiplinan, ketekunan, kerja keras, tekad yang kuat, resiliensi, kesabaran, dan motivasi yang tinggi.

Nah, dari ketiga hal yang mempengaruhi capaian keberbakatan tersebut, Ayah Bunda tentunya bisa menangkap benang merah akar permasalahan. Jika Ananda termasuk anak yang pintar dan kreatif, lalu mengapa prestasinya tidak maksimal dan cenderung biasa-biasa saja? Menurut teori Renzulli, berarti ada yang bermasalah dengan task commitment-nya. Apakah Ananda memiliki task commitment atau tidak? Task commitment-nya. tinggi atau rendah? Apakah task commitment Ananda sekadarnya atau betul-betul ingin menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya?

Teori Renzulli ini bisa menjadi alternatif sudut pandang untuk memahami mengapa anak-anak yang pintar dan kreatif justru tidak menjadi achiever (baca: berhasil meraih prestasinya), tapi malah sebaliknya menjadi under achiever? Bahkan, prestasinya kalah dengan anak-anak yang tingkat inteligensi dan kreativitasnya biasa-biasa saja. Barangkali dari itulah kita mengenal adagium “anak pintar kalah dengan anak yang tekun”. Maka, memiliki kemampuan di atas rata-rata (above average ability) dan kreativitas (creativity) saja tidak cukup, Ananda juga memerlukan komitmen menyelesaikan tugas (task commitment) yang tinggi.

Dan, di sinilah letak tantangan terbesarnya (baca: peran Ayah Bunda)!

Jika above average ability dan creativity berkaitan dengan “bawaan” yang dimiliki sejak lahir (beberapa ilmuwan berbeda tentang hal ini), maka task commitment adalah kemampuan yang cenderung bisa “ditumbuhkan” (baca: dimodifikasi). Meskipun anak-anak memiliki modal kedisiplinan dan ketekunannya sendiri, namun Ayah Bunda bisa memodifikasi lingkungan belajar dan psikologis mereka, sehingga benih task commitment mereka akan tumbuh lebih sempurna. Demikian juga dengan faktor-faktor yang mempengaruhi task commitment lainnya: kerja keras, tekad, resiliensi, kesabaran, pantang menyerah, motivasi tinggi, dsb., semua itu bisa ditumbuhkan.

Meskipun ada banyak faktor (internal dan eksternal) yang mempengaruhi benih itu tumbuh dengan sempurna, namun satu hal yang pasti: Ayah Bunda perlu memastikan bahwa hal-hal yang “bisa dikendalikan” harus selalu dalam penjagaan Ayah Bunda. Aktivitas di luar jam sekolah adalah waktu yang seharusnya dalam penjagaan Ayah Bunda. Terlebih, aktivitas di lingkungan rumah, modifikasi lingkungan belajar dan psikologis Ananda harus betul-betul dalam kendali Ayah Bunda.

Contoh sederhana, ketika melatih Ananda menyelesaikan pekerjaan mereka sendiri. Seringkali orang tua memaksakan diri hadir untuk membantu menyelesaikan tugas Ananda. Ini cenderung membuat anak-anak menjadi sangat tergantung pada orang tua dalam menyelesaikan tugas. Padahal jika diberi kesempatan, sesungguhnya mereka memiliki kemampuan untuk menyelesaikannya sendiri. Meskipun butuh waktu lama, sedikit berantakan, kurang sempurna, dan perlu banyak perbaikan. Tetapi, yang terpenting adalah mereka mampu menyelesaikannya.

Memberi kepercayaan kepada anak-anak kita untuk menyelesaikan pekerjaannya sendiri adalah bagian dari cara kita menumbuhkan task commitment mereka. Mulailah dari cara sederhana: menghabiskan makanan mereka sendiri, memakai mukena sendiri, melipat sajadah sendiri, memakai sepatu sendiri, membuat cerita (tugas sekolah) mereka sendiri, menyelesaikan tugas keterampilan mereka sendiri, dsb. Tahan dan cegahlah keinginan Ayah Bunda untuk mencampuri proses task commitment mereka. Kita hanya perlu hadir mendampingi. Bersabarlah! Jangan rusak mereka, hanya demi “kesempurnaan” hasil pekerjaan yang sesuai keinginan kita.

Ayah Bunda, pada hakikatnya teori Renzulli ini tidak hanya berlaku untuk Ananda, tetapi juga kembali kepada diri kita sebagai orang tua: apakah Ayah Bunda memiliki task commitment untuk menyelesaikan tugas sebagai orang tua? Tugas maha panjang yang hanya berakhir pada saat tanggung jawab itu kita kembalikan kepada Sang Pencipta. Ketika anak-anak berhasil menjadi waladun shalihatin yad’u lah—yang doanya bersambung ke orang tua kekal kelak hingga akhirat, itulah capaian task commitment kita. 

Bahkan patahan-patahan bumi. Bergerak dalam tubuhku
Mengombakkan ayat-ayat rindu: di ruas-ruas jemariku,

di garis-garis tanganku, Engkaulah doa paling biru1

Kutipan:

1Puisi “Rubaiyat Februari” karya Jamal D. Rahman.

Penulis, M. Nurul Furqon