Menu Close

Pendidikan Islam, Peradaban dan Generasi Unggul

0Shares

(Pancaran.net) – Generasi unggul yang siap menjadi pemimpin peradaban umat manusia tidak akan muncul begitu saja, dia harus dipersiapkan melalui sebuah proses pendidikan yang terbaik. Pendidikan Islam adalah jawaban dari persoalan tersebut. Pendidikan Islam tidak saja memberikan solusi dari permasalahan umat dan bangsa, namun hadir dalam proses tarbiyah (pendidikan), ta’lim (pengajaran), dan ta’dib (mendidik adab). Pendidikan Islam telah terbukti melahirkan generasi terbaik sepanjang masa, lihatlah para pejuang-pejuang Islam yang rata-rata usia masih sangat muda. Dizamannya, Usamah bin Zaid, Sa’d bin Abi Waqqash, Al Arqam bin Abil Arqam Zubair bin Awwam, Zaid bin Tsabit, Atab bin Usaid, Mu’adz bin Amr bin Jamuh, Thalhah bin Ubaidullah Abdurrahman An Nashir, Muhammad Al Qasim. Mereka telah menuliskan sejarah panjang peradaban Islam dan kemanusiaan dengan tinta emas. Tugas pendidikan Islam saat inilah untuk melahirkan kembali pejuang-pejuang Islam zaman now, melanjutkan kembali tugas risalah, untuk menghadirkan kesejahteraan umat manusia, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, persatuan umat, dan menjaga nilai-nilai kebaikan untuk diri, keluarga, masyarakat, umat, negara dan bangsa.

Selintas. Ketiga kata tentang Pendidikan Islam, Peradaban dan Generasi Unggul adalah istilah yang saling terpisah, namun pada hakekatnya ketiga istilah tersebut saling terkait, bahkan satu dengan yang lainnya saling mempengaruhi. Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantoro, seorang tokoh pendidikan di tanah air, yang melahirkan taman siswa mengartikan pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak peserta didik, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Sementara beberapa ahli barat secara umum dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan adalah upaya menolong anak untuk dapat melakukan tugas hidupnya secara mandiri supaya dapat bertanggung jawab secara susila. Pendidikan merupakan usaha manusia dewasa dalam membimbing manusia yang belum dewasa menuju kedewasaan. Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, menyatakan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.

Prof. Dr. Satryo Soemantri Brojonegoro yang mempertanyakan cetak biru pendidikan Indonesia, lebih lanjut beliau menyatakan  bahwa, “Sekolah bukanlah sebuah pabrik atau kantor. Jika sekolah dianggap dan dikelola seperti pabrik atau kantor, maka murid-murid dianggap benda mati yang akan diolah berbagai peralatan dan proses menjadi produk tertentu.” Hal ini relevan dengan teori pendidikan zaman revolusi industri yang pertama, dimana seorang anak bersekolah dan mencari ilmu untuk menjadi seorang pekerja, entah sebagai tehnokrat, birokrat atau ekonom.

Islam mendefiniskan pendidikan dengan istilah tarbiyah (pendidikan), ta’lim (pengajaran), dan ta’dib (mendidik adab). Kata tarbiyyah sendiri memiliki tiga makna, yaitu  pertama adalah berkembang, yang kedua tumbuh, dan yang ketiga berarti memperbaiki, mengurus, memimpin, menjaga dan memeliharanya (atau mendidik). Manusia sejak dilahirkan telah membawa fitrah tauhid (HR. Bukhari). Hal ini berbeda dengan banyak pandangan barat yang mengatakan bahwa setiap anak yang dilahirkan dalam keadaan suci, bersih, tanpa dosa, dan tanpa potensi apa-apa. Oleh karena pendidikan dalam konsep Islam adalam menumbuhkan, mengembangkan dan memelihara potensi yang sudah ada sejak dilahirkan yaitu potensi tauhid, untuk menyembah dan mengesakan Allah SWT. Pendidikan dalam pandangan Islam bertujuan untuk menjada diri dan keluarga dari api neraka, sebagaimana disebutkan di dalam QS. At Tahrim (66): 6 sebagai berikut:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Pendidikan dalam Islam mengusung tema peradaban, menyiapkan manusia untuk menjadi khalifah, pemimpin dunia dan peradaban manusia tanpa membawa pesan-pesan keumatan, kesejahteraan umat manusia dan keadilan di dunia. Lihatlah bagaimana Allah SWT telah mengingatkan tentang kepemimpinan kaum muslimin di dunia, dan menetapkan kaum muslimin sebagai khoirul ummah (sebaik-sebaik umat)….

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”… (QS. Al Baqarah: 30)….

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah … (QS. Ali Imran: 110).

Maka, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu menyadarkan hakekat manusia, siapa penciptanya, dan untuk apa dia diciptakan. Pendidikan yang mampu memberikan semangat perbaikan (islah) padaq diri, keluarga, masyarakat, umat dan bangsa. Pendidikan yang mampu menghantarkan seseorang menjadi khalifah, menjadi pemimpin, menjadi teladan, menjadi bagian dari solusi umat dan bangsa, dan kemudian bersama-sama memberikan kontribusi yang nyata terhadap proses perbaikan, dan penyelesaian permasalahan-permasalahan diri, keluarga, masyarakat, umat dan bangsa.

Dalam ajaran Islam dikenal istilah maratibul ‘ilmi (derajat) ilmu, ada ilmu yang sifatnya wajib untuk dipelajari oleh setiap diri kaum muslimin, ada yang sifatnya fardhu kifayah, wajib dimiliki sebagian saja oleh diri kaum muslimin. Maka ilmu hal, yakni ilmu yang dengannya seseorang bisa melaksanakan kewajibannya dengan baik, maka hukumnya fardhu ‘ain. Pendidikan Islam merupakan salah satu contoh ‘ilmu hal, maka memperoleh pendidikan Islam yang baik, pada setiap aspek dan implementasinya menjadi kewajiban setiap diri pribadi kaum muslimin. Yang menjadi pertanyaannya adalah, pendidikan Islam yang seperti apa yang akan mampu membawa umat ini menjadi generasi terbaik, generasi unggul (rijaalul khiyariyyah).

Barat meskipun maju dalam bidang teknologi dan perekonomiannya, namun gagal dalam konsep pendidikannya, mereka tidak mampu untuk menjadikan para generasinya memiliki adab. Mungkin mereka berilmu, tapi ilmu tanpa disertai dengan adab maka yang ada adalah kerusakan. Prof. Caroll Quigley, seorang guru besar Georgetown University, AS dalam bukunya Tragedy and Hope menyebutkan bahwa, “Some things we clearly do not yet now, including the most important of all, which is how bring up children to form them into mature, responsible adult”, … Barat telah sukses dalam mengontrol pertumbuhan penduduk, meningkatkan penghasilan dan mengurangi kemiskinan, namun beberapa hal yang mereka jelas belum lakukan sekarang, termasuk yang paling penting dari semuanya, yaitu bagaimana membesarkan anak-anak untuk membentuknya menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab (Adian Husaini, 2019).

Jika Barat oleh beberapa ahli pendidikannya sudah mengatakan kegagalannya dalam mewujudkan generasi yang beradab dan bertanggungjawab, masihkah kita berkiblat dalam menentukan arah pendidikan anak-anak kita ke sana? Islam memiliki konsep yang sangat fundamental dan jelas dalam masalah pendidikan dan kepemimpinan. Marilah kita sama-sama bekerja dan bekerja bersama-sama untuk melahirkan sebuah pendidikan unggul, yang akan mewujudkan pribadi-pribadi Islam yang mempesona dunia, bertanggung jawab terhadap kebaikan diri, keluarga, masyarakat, umat, bangsa dan negaranya. Dia merasa bahwa dirinya adalah semangat baru dalam proses perbaikan ditengah-tengah masyarakat dan umat. Dia tidak berhenti dalam memperbaiki keadaan dan kualitas diri dan keluarganya, namun dia juga berkontribusi dalam setiap kebaikan, kesejahteraan dan kemajuan umat, bangsa dan negara.

Al Qur’an banyak sekali memberikan petunjuk bagaimana arah pendidikan Islam dalam mewujudkan generasi unggul yang akan memimpin peradaban manusia di dunia, yakni melalui penghormatan akal manusia, bimbingan ilmiah, dan fitrah manusia, penggunaan kisah, dan memeliharan kebutuhan sosial masyarakat. Untuk itu dibutuhkan mujahadah dan mulazamah (kesungguhan dan kesinambungan) bagi siapa saja yang menetapkan pilihan hidupnya dalam berikhtiar dan berkhidmat dalam pendidikan Islam. Allah swt berjanji akan memudahkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh meraih keridloan-Nya.  

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” ( QS. Al Ankabut : 69.)

 

Penulis, Dr Budi Harjo

Guru  Al Azhar Solo Baru