Menu Close

Merawat Luka (Bagian kedua dari dua tulisan)

0Shares

(Pancaran.net)Govern a family as you would cook a small fish—very gently!

Mengelola rumah tangga memang hampir sama seperti saat kita memasak ikan berukuran kecil: ekstra hati-hati, pelan-pelan, sangat lembut, tidak boleh terlalu keras, tidak terburu-buru, sabar, dan tidak gegabah. Sedikit saja kelalaian maka ikan kecil yang kita masak akan rusak berantakan, hancur tak berbentuk!

Pertengkaran, konflik, egosentris, ketidakcocokan, perbedaan pendapat, silang sengketa, pengelolaan emosi yang buruk, salah paham, karakter keluarga yang bertolak belakang, perbedaan suku, komunikasi yang tidak sehat, dan beragam penghambat lainnya adalah beberapa di antara banyak dinamika keluarga. Seperti empedu dan kotoran yang menyatu di dalam perut ikan. Bagian-bagian yang acap kali kita namai “tidak enak” yang selalu menyertai dan menjadi ‘bumbu’ rumah tangga. Semuanya pasti dialami oleh mereka yang menjalankan kemudi keluarga.

Hargrave (1994), seorang peneliti masalah keluarga dan perkawinan yang memfokuskan pada studi permaafan, menyatakan bahwa untuk melampaui permasalahan interpersonal dan untuk mencapai titik permaafan, sebuah keluarga setidaknya harus melewati dua macam proses, yaitu: menghilangkan kecurigaan dari berbagai macam tuduhan (exoneration) dan memaafkan (forgiveness).

Hargrave menjelaskan lebih jauh bahwa masing-masing komponen yang membentuk keluarga harus benar-benar memahami peran dan fungsinya. Untuk itulah perlu kedewasaan dalam menyikapi setiap persoalan. Dalam berumah tangga dibutuhkan adanya wawasan dan pengetahuan yang luas tentang hak dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga. Ayah, ibu, anak, maupun anggota keluarga lainnya mempunyai peranan masing-masing. Mereka harus memahami batas-batas tanpa harus keluar dari tanggung jawab dan melanggar hak yang lain, terbuka untuk menyelesaikan konflik, dan memberi kesempatan bagi anggota keluarga lainnya untuk memperbaiki kesalahan.

Worthington (1998), peneliti studi permaafan lainnya, juga menyatakan bahwa proses memaafkan di dalam sebuah keluarga akan berjalan lancar jika melibatkan tiga hal: empati (empathy), kerendahan hati (humility), dan komitmen (commitment). Empati akan menghasilkan kepedulian untuk ikut saling merasakan dan berbagi. Kerendahan hati akan memudahkan seseorang mengesampingkan ego pribadi dan mengutamakan kepentingan yang lebih besar. Sedangkan komitmen akan mengikat simpul-simpul perekat rumah tangga menjadi semakin kokoh, erat, dan kuat.

Selain kemampuan untuk memaafkan, hal lain yang juga dibutuhkan dalam mengelola rumah tangga adalah keterampilan ‘menahan diri’. Keterampilan ini sangat efektif dalam semua kondisi. Sebab ia adalah keterampilan yang tidak hanya berlaku bagi sang nakhoda (suami), mualim (istri), para kelasi (anak), maupun penumpang (anggota keluarga) lainnya. Tak perlu badai kemarahan atau topan pertengkaran yang berlebihan. ‘Menahan diri’lah, meskipun kita memiliki kekuasaan (baca: pembenaran) untuk melampiaskan api kemarahan.

Allah SWT memberikan penghargaan bagi orang yang mampu menahan diri. ‘Menahan diri’ pada saat marah adalah salah satu ciri orang yang bertakwa. Allah berfirman, “Orang-orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan (harta mereka) baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imran:134).

Rasul Saw. juga memberikan berita gembira bagi orang yang mampu menahan diri: “Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya” (H.R. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Siapapun yang memutuskan untuk berumah tangga dan membangun sebuah keluarga harus selalu siap menghadapi segala tantangan di depan. Tak ada jalan menikung, berputar, apalagi ke belakang karena waktu selalu berjalan ke depan. Semuanya penuh dengan misteri, sebagaimana misterinya perkawinan itu sendiri. Tak ada yang bisa meramalkan apa yang akan terjadi di jalan hadapan. Tak ada juga yang bisa memastikan apakah rumah tangga yang dibangun akan berjalan seperti film-film roman dengan peluk cium kebahagiaan dan canda tawa riang sebagai akhir perjalanan, atau justru sebaliknya: prahara yang tak kunjung padam membelit rumah tangga dan menghancurkan seluruh sendi-sendi keluarga.

Maka, di sinilah kita perlu sejenak beristirah. Melapangkan hati, melebarkan dada, mendinginkan kepala dan menjenguk kembali jejak yang telah kita tinggalkan. Apakah prestasi ataukah hukuman? Apakah bahagia atau duka? Apakah tawa atau luka? Apakah kenangan ataukah sesuatu yang harus dilupakan? Apakah sepoi ataukah badai? Sudahkah menjadi tempat kembali atau justru menjadi alasan bagi kita untuk selalu meninggalkan pergi? Benarkah yang kita bangun adalah keluarga atau hanya sekumpulan tubuh berisi nyawa?

Ingatkah kita, sebuah kalimat bijak yang berbunyi, “We make a living by what we get, but we make a life by what we give.” Kita membuat tempat tinggal dengan apa yang kita dapatkan, tapi membuat kehidupan dengan apa yang kita berikan. Memberi, sejatinya tidak akan pernah menghabiskan apa yang kita miliki. Karena dengan cara yang ajaib, Sang Pencipta akan mengirim keberkahan-keberkahan sebagai pengganti dari apa yang kita beri itu dengan sesuatu yang lebih baik, lebih istimewa, dan lebih berharga.

Membangun keluarga, bersosialisai, bertetangga, bermasyarakat, berbaur, dan berinteraksi dengan lingkungan di sekitar kita merupakan ritme harian yang kita jalani sebagai makhluk hidup. Sebagaimana yang kita pahami, to be social is to be forgiving, bersosialisasi sebenarnya adalah bersiap untuk memaafkan. Kenapa? Karena akan ada banyak kejadian yang akan membuat kita untuk lebih banyak memaafkan dan menahan diri. Mulai dari kesalahan sepele yang tidak perlu diributkan hingga kejadian yang membekaskan luka dan tidak akan pernah hilang.

Saat kita menyadari bahwa ‘memaafkan’ dan ‘menahan diri’ sebenarnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kita—sebagai manusia dan bagian alam semesta—maka pada saat itulah kita akan mampu melihat segala hubungan, sebab akibat, peristiwa dan setiap kejadian di dunia ini dengan sudut pandang yang lebih bijak dan berbeda. Kita akan mulai mengevaluasi diri dan mulai menata ego yang kita miliki. Proses evaluasi ini juga akan menuntun kita agar tidak selalu menimpakan kesalahan pada orang lain dan menyadari bahwa rasa sakit yang kita terima pada hakikatnya juga menjadi sebuah pilihan.

Saat kita memutuskan untuk memikul tanggung jawab atas kehidupan kita sendiri, maka pada waktu itulah kita sejatinya sedang belajar untuk menerima kehidupan sebagaimana adanya. Kita tidak akan melihat orang lain sebagai sebab dari segala perubahan, juga tidak akan menyalahkan orang lain kenapa kita berhenti tumbuh. Jika perubahan itu terjadi, sebenarnya ia berubah dari dalam, dan jika kita berhenti tumbuh, maka kita sendirilah yang sebenarnya tidak menghendaki pertumbuhan itu.

‘Memaafkan’ dan ‘menahan diri’ akan membebaskan kita dari penjara pikiran dan akan mengantarkan kita pada pintu yang akan membuat hidup kita lebih bercahaya. Sebuah pintu yang bernama compassion (belas kasih). Compassion bears the pain of the past. It does no longer try to accuse, to suppress, to condemn and hurt. Belas kasih akan menahan rasa sakit di masa lalu. Tak perlu melempar beban dengan cara menuduh, mengutuk, dan menyakiti. Memori tentang masa lalu akan membawa kita pada penderitaan dan luka yang tak pernah hilang. Tetapi dengan berbelas kasih, kita akan mampu melepaskan diri dari rantai ingatan itu, dan membebaskan kita menuju hidup yang baru.

Awwalul ghodhobi junuunun,

wa aakhiruhu nadamun.

Permulaan kemarahan adalah kegilaan,

dan akhirnya adalah penyesalan (pepatah Arab).

 

Penulis, M. Nurul Furqon