Merawat Luka (Bagian I)

0Shares

(Pancaran.net) – Kemarahan adalah sebuah kenyataan dalam hidup. Kemarahan adalah bentuk dari emosi manusia yang merespons suatu bentuk ketidaksesuaian. Pada saat kita masih kecil sekalipun, kita telah belajar tentang amarah. Saat bayi merasa lapar ia akan menangis. Ia menunjukkan ekspresi kemarahannya karena menginginkan sang ibu segera menyusuinya. Amarah, adalah bagian dari perasaan kita yang telah tumbuh semenjak bayi.

Seorang pakar emosi, Carol Izard, menyatakan bahwa kemarahan memiliki fungsi menyalakan energi seseorang untuk melakukan perlawanan (defence). Perlawanan dan perasaan dari pemberdayaan fisik yang kerap datang ini, mungkin akan berujung pada tindak penyerangan (agression), baik fisik maupun verbal. Senada dengan pernyataan Izard, Jacques Lacan (1977), seorang psikoanalisis dari Perancis juga menjelaskan bahwa tindak penyerangan merupakan hasil dari pembelaan psikologis terhadap adanya ancaman.

Menurut Lacan, ingatan akan ancaman sebenarnya adalah ‘psychological illusion’, yang berperan untuk menutupi dan menyembunyikan ketidakmampuan serta kelemahan manusia itu sendiri. Sehingga pada saat seseorang melakukan aksi yang dalam katagori psikologis termasuk sebagai ancaman, maka reaksi yang paling cepat, mudah dan umum dilakukan adalah melakukan pembelaan dengan menunjukkan ‘power’, bahkan mungkin menyerang—yang sebenarnya sebagai upaya untuk menutupi ketidakmampuan dan kelemahan. Dalam kehidupan sehari-hari, ekspresi itu kita namakan ‘kemarahan’.

Ada perbedaan mendasar antara marah (anger) dan perasaan terluka/disakiti (feeling hurt). Kita pasti merasa tersakiti atau terluka ketika tidak mendapatkan sesuatu sesuai dengan keinginan dan kebutuhan kita. Marah, secara teknis pada kondisi seperti ini lebih dominan muncul sebagai keinginan untuk memberikan ‘pelajaran’ (balasan setimpal), atau bahkan balas dendam. Emosi inilah yang memicu timbulnya perasaan terluka atau tersakiti.

Contohnya, pada saat Anda sedang mengemudikan kendaraan, tiba-tiba ada orang dengan seenaknya memotong jalan di depan Anda sehingga hampir-hampir saja Anda mengalami kecelakaan. Reaksi yang mungkin Anda berikan adalah terkejut, kesal, dan marah. Adrenalin meningkat dengan cepat di aliran darah, jantung berdetak lebih kencang sehingga memicu naiknya tekanan darah. Kondisi fisik yang kita alami ini merupakan bentuk dari respons fisiologis (physiological responses) terhadap sebuah peristiwa, yang dalam pikiran kita diterjemahkan sebagai ancaman.

Tapi kemudian, sebagai bentuk reaksi psikologis (psychological reaction), dengan cepat pikiran Anda akan menerjemahkan perasaan khawatir dan tertekan itu dalam bentuk respons fisik. Bentuknya bisa bermacam-macam. Mungkin Anda akan membunyikan klakson keras-keras, memandang dengan sinis, memaki, berkata-kata kasar, dan sebagainya. Pada saat inilah Anda disebut dalam kondisi ‘marah’. Kemarahan adalah bentuk reaksi psikologis terhadap seseorang atau sesuatu yang menurut Anda bersifat jahat, mengganggu, dan membahayakan. Pada saat seseorang menyakiti Anda, dalam reaksi kemarahan yang Anda tunjukkan, Anda ingin membalasnya, setimpal dengan rasa sakit yang Anda rasakan.

Anger is a natural calling. Benar, kemarahan adalah panggilan alamiah. Wajar. Normal. Sesuatu yang tidak menyalahi kodrat. Tapi, hanya karena sesuatu itu wajar dan alamiah tidak berarti benar untuk kita lakukan, bukan?

“Anybody can become angry, that is easy; but to be angry with the right person, and to the right degree, and at the right time, and for the right purpose, and in the right way, that is not within everybody’s power that is not easy.” (Aristoteles)

Tidak setiap orang bisa marah dengan ‘benar’. Sebagaimana kata Aristoteles, bahwa hanya sedikit saja orang yang memiliki kemampuan untuk marah dengan ‘benar’. Yaitu marah di saat yang tepat, pada orang yang tepat, di waktu yang tepat, tujuan dan alasannya tepat, dan dengan cara yang tepat pula. Yang umum terjadi adalah, setiap orang bisa marah, dan setiap orang berhak untuk marah. Apapun caranya, bagaimana pelampiasannya, tak peduli terhadap siapa ia marah, baik itu benar atau salah.

Meskipun tidak ada satu artikel pun yang melarang seseorang untuk marah, namun kemarahan tetap saja akan meninggalkan ‘bekas luka’ yang tidak akan pernah hilang. Luka ini akan tertimbun bersama pengalaman-pengalaman buruk lainnya. Sedikit pemicu saja, maka luka yang tidak akan pernah sembuh ini bisa muncul kembali dan merembet menjadi luka-luka baru yang lebih lebar dan mematikan.

Sebuah kisah yang sering kita dengar barangkali akan mengingatkan kita. Kisah tentang betapa hebatnya luka yang diakibatkan oleh kemarahan. Suatu hari, seorang ayah berpesan kepada anaknya, jika sang anak marah maka tancapkanlah sebuah paku di atas permukaan kayu. Satu paku untuk satu bentuk kemarahannya. Begitulah sang ayah menyuruh anaknya untuk menandai simpul-simpul kemarahannya dengan satu tancapan paku selama seminggu. Akhirnya, selama seminggu, sang anak telah menancapkan 20 paku yang menunjukkan 20 kali kemarahannya.

Setelah melihat hal itu, sang ayah pun menyuruh anaknya untuk mencabut seluruh paku. Hanya menggunakan peralatan sederhana, dengan mudah sang anak mulai mencabut seluruh paku hingga tercerabut semua. Setelah bersih, sang ayah pun meminta kayu bekas tancapan paku-paku tersebut.

Sang ayah berkata, “Inilah akibatnya jika kita marah pada seseorang,” sambil menunjukkan lubang-lubang bekas tancapan paku. “Meskipun kemarahan itu sudah hilang, dan kita sudah meminta maaf, tapi tetap saja meninggalkan lubang yang dalam. Bahkan, kemarahan itu, selamanya, tetap akan meninggalkan bekas yang menganga.”

Dan, tahukah bahwa ternyata kemarahan tidak hanya membekaskan “lubang” ke dalam hati orang yang menjadi objek kemarahan, tapi juga bagi diri pelaku kemarahan itu sendiri. Sebagaimana yang dikatakan Don Colbert, M.D., dalam bukunya Deadly Emotions, bahwa kemarahan memiliki dampak terhadap munculnya penyakit-penyakit, seperti hipertensi, sakit maag, jantung, tremor, dan bahkan kanker. Ironisnya, terkadang ada orang yang meyakini bahwa dengan melampiaskan kemarahan justru akan mencegah naiknya tekanan darah dan dapat mengurangi tingkat stress.

Pandangan lain yang sering disalahartikan adalah, budaya ‘blak-blakan’ dan ‘cepat marah, tapi cepat juga selesainya’. Dengan alasan ‘blak-blakan’, seseorang dengan seenaknya meluapkan kemarahannya, memborbardir lawan bicaranya lewat omongan yang tidak terkontrol asal sesuai isi hati. Apa yang dipikirkan, apa yang dirasakan, harus dikeluarkan agar isi hatinya menjadi ‘plong’.

Ia berpikir, apa yang dilakukan adalah sesuatu yang wajar dan ‘sah-sah’ saja karena hal itu merupakan wujud dari sikap asertive (berterus terang) yang dimiliki manusia. Begitu juga tentang pandangan ‘cepat marah, tapi cepat juga selesainya’, boleh marah sesuka hati asal tidak lama-lama dan cepat selesai. Sedikit saja pemicu, ia akan marah habis-habisan, lalu tiba-tiba saja berhenti, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

Apakah hal semacam itu dibenarkan? Mungkin saja pandangan di atas bisa menjadi alat pembenaran sebagian orang yang mengambil posisi sebagai ‘pihak’ yang melampiaskan kemarahan. Lalu, bagaimana akibatnya bagi orang yang menjadi objek pelampiasan kemarahan? Yang pasti, bermacam perasaan seperti dilecehkan, disakiti, direndahkan, tidak dihargai, menjadi wujud dari ‘lubang-lubang’ bekas paku yang ditinggalkan.

Dampaknya tidak hanya hitungan hari, minggu atau bulan, tapi bertahun-tahun. Puluhan tahun, perasaan itu akan mengendap sehingga butuh waktu lama untuk disembuhkan. Meski sudah meminta maaf berkali, tetap saja luka itu akan membekas. Bahkan, bisa berubah menjadi luka batin yang mendalam dan membuahkan kebencian.
Itulah mengapa, jauh-jauh hari Baginda Nabi Saw., berpesan untuk menahan diri ketika marah. Beliau mengatakan,

“… Orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya saat marah.
Tahanlah diri Anda, sebelum benih itu tumbuh menjadi luka yang menganga!

Penulis, M. Nurul Furqon

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta