Ketika Gema Illahi Berkumandang di Komplek “Kupu-Kupu Malam”

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – Tak seperti malam lainnya, kampung Kestalan RW IV Kecamatan Banjarsari saat itu dipenuhi para wanita berjilbab, mereka berdatangan dari beberapa arah menyusuri gang yang dipenuhi polisi tidur. Tak ketinggalan para pria berpeci dan bersarung juga hilir mudik di kampung tersebut menuju sebuah masjid.

Ya, malam itu Sabtu (9/10) Paguyuban Roso Wening bekerja sama dengan takmir Masjid Asyiar mengadakan Tablig Akbar dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW dengan mengundang Ustadzah Dewi Purnamawati sebagai pembicara. Gema wahyu Illahi terdengar melalui pengeras suara yang memenuhi kampung ‘pelacuran’ tersebut.

Wilayah Kestalan bagi masyarakat Solo dikenal dengan kampung penjaja seks, terletak di sekitaran Kantor RRI Surakarta. Jika malam tiba para wanita berjajar dipinggir jalan menjajakan diri layaknya penjual sayur di pasar. Dengan mengumbar aurat mereka ramah ketika ada laki-laki lewat di depannya. Tak  peduli itu penduduk kampung atau orang luar. Hal inilah yang membuat jengah masyarakat Kestalan. Namun kejengkelan itu hanya mampu terucap tak mampu membuat gerakan untuk menutup bisnis haram tersebut.

Di Kampung Kestalan terdapat hotel atau penginapan yang jumlahnya belasan, jumlah pelacurnya menurut berbagai sumber mencapai ratusan orang. Namun menurut tokoh setempat saat diselenggarakan Tablig Akbar semua pelacur tak tampak batang hidungnya. Entah mereka sembunyi didalam kamar hotel atau pergi, yang jelas malam itu sepi.

Tablig Akbar malam itu terlihat ramai dan meriah banyak elemen Islam lainnya yang juga berkontribusi dalam kegiatan dakwah tersebut seperti MDS dan Warung Murah yang membagikan nasi kotak bagi jamaah pengajian dan masyarakat sekitar. Tak ketinggalan Expresso juga membagikan kopi gratis. Dan masih banyak elemen Islam lain tentunya.

Dalam sambutannya Ketua Komunitas Paguyuban Roso Wening, Hasto Dwi Kuncoro menjelaskan bahwa kegiatan itu merupakan wujud kepedulian sebagai masyarakat Solo yang menginginkan Kampung Kestalan berubah menjadi lebih baik.

“Kenapa Roso Wening, karena dengan perasaan semua bisa melihat dengan jernih, hal buruk bisa lebih menjadi baik. Karena itu paguyuban Roso Wening hadir di lingkungan Kestalan. Semoga di momen Maulud Nabi semoga cita-cita mulia ini menjadi lebih baik. Kami juga berharap kpd para tokoh untuk mendukung program dakwah ini,” ujarnya.

Selain dihadiri tokoh masyarakat setempat kegiatan malam itu juga dihadiri perwakilan dari Polsek Banjarsari, Koramil dan juga Lurah Kestalan. Dalam sambutannya Suyono Lurah Kestalan menyampaikan apresiasinya yang tinggi terhadap kegiatan ini.

“Saya ucapkan terimakasih, kepada Paguyuban Roso Wening yang sudah peduli pada persoalan di Kestalan ini. Semoga dari pengajian ini kita dapat mengambil hikmah semuanya,” katanya.

Dalam tausiahnya Ustadzah Dewi menyampaikan pentingnya menjalankan ibadah Islam secara kaffah.

“Kita tidak tahu kapan Allah mencabut nyawa ini. Untuk itulah saya mengajak semuanya untuk menjalankan ibadah Islam dengan baik,” tuturnya.

Dalam kegiatan tersebut Paguyuban Roso Wening juga memberikan wakaf Al quran yang diberikan kepaa takmir setempat.

Kedepan Paguyuban Roso Wening juga akan mengadakan kegiatan serupa. Hal ini dengan harapan agar para pelaku bisnis esek-esek mucikari, pelacur dan semua yang terlibat bisa bertaubat dan kampung Kestalan bisa menjadi kampung berkah dan suci.