Pemuda dan Membangun Indonesia Baru

0Shares

(Pancaran.net) – Salah satu modal sosial yang sangat penting dalam pembangunan nasional adalah usia produktif demografi penduduk suatu Negara, yaitu ada pada pemuda. Laporan yang diluncurkan oleh OECD dan dirangkum oleh Eric Hanushek dari Universitas Standford dan Ludger Woessmann dari Universitas Muenchen ini mengatakan bahwa: “maju mundurnya suatu kualitas suatu negara ditentukan oleh peran pemudanya.” WHO menyebut pemuda sebagai” young people” dengan batas usia 10-24 tahun, sedangkan usia 10-19 tahun disebut ”adolescenea” atau remaja. International Youth Year, mendefinisikan penduduk berusia 15-24 tahun sebagai kelompok pemuda.

Dalam kosakata bahasa Indonesia, pemuda juga dikenal dengan sebutan generasi muda dan kaum muda. Seringkali terminologi pemuda, generasi muda, atau kaum muda memiliki definisi beragam. Definisi tentang pemuda berdasarkan kategori psikologis adalah mereka yang memiliki semangat pembaharu dan progresif.Pemuda adalah individu dengan karakter yang dinamis, bahkan bergejolak dan optimis namun belum memiliki pengendalian emosi yang stabil. Pemuda menghadapi masa perubahan sosial maupun kultural.

Sejarah mencatat bahwa setidaknya ada empat hal yang dapat menjadi perekat bangsa, yaitu pertama, jaringan perdagangan di masa lampau. Kedua, penggunaan bahasa yang sejak 1928 kita sebut sebagai bahasa Indonesia. Ketiga, imperium Hindia-Belanda sesudah pax-neerlandica, dan keempat, pengalaman bersama sebagai bangsa Indonesia sejak 1945. Proses pembentukan peradaban Indonesia diawali oleh keinganan untuk lepas dari penjajahan dan ingin memiliki kehidupan yang lebih baik bebas dari penindasan dan bebas untuk melakukan apa yang diinginkan sebagai sebuah bangsa yang dibalut dalam rasa nasionalisme.

Pemuda, dan Membangun Indonesia Baru

Abad 21 yang diiringi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara global dan hightech, membutuhkan kepemimpinan yang accountable, efisien, efektif dan inovatif. Cita-cita dalam membangun Indonesia baru adalah Indonesia yang sehat, maju, kompetetif namun tetap mengedepankan nilai-nilai religi yang menjadi fundamen dasar pembangunan bangsa.

Semangat menuju Indonesia baru, adalah semangat menuju Indonesia yang lebih maju, berkeadilan dan bermartabat. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut perlunya agen perubahan dalam masyarakat adalah kelas menengah yang lebih terdidik dan memiliki modal sosial lebih kuat dibandingkan dengan kelas bawah. Siapa kelas menengah Indonesia yang sanggup dan memiliki potensi untuk melakukan perubahan tersebut? Mancur olson (2002) menyebutkan bahwa mereka itulah para pemuda-pemudi Indonesia. Pemuda yang memiliki semangat juang progesif dan memiliki kepedulian untuk melawan ketidakadilan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mengawal perubahan sosial yang terjadi di Indonesia yang menentukan arah perjalanan bangsa (path dependent).

Pemuda memberikan kontibusi besar terhadap pembentukan menuju Indonesia baru. Gerakan mahasiswa dan pemuda tahun 1908, 1928, 1945, 1965, 1974, 1978, 1998 telah menjadi saksi bagaimana  peran pemuda dalam setiap dinamika bangsa dan negara. Saat ini pada abad 21, gerakan menuju Indonesia baru, adalah gerakan untuk yang membentuk Indonesia yang sehat, bebas Narkoba, gerakan melawan korupsi untuk menyelamatkan peradaban bangsa Indonesia, gerakan yang berusaha menjawab tantangan zaman, menjadikan peradaban Indonesia menjadi peradaban yang maju dan besar.

Akankah pemuda kembali menjadi bagian dalam proses menuju Indonesia baru yang lebih maju, berkeadilan dan bermartabat?

Pandangan Islam terhadap Pemuda

Sejarah panjang peradaban Islam dan kemanusiaan tercatat dengan tinta emas para pejuang-pejuang yang rata-rata usia masih sangat muda. Usamah bin Zaid 18 tahun. Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu. Sa’d bin Abi Waqqash 17 tahun. Yang pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah. Termasuk dari enam orang ahlus syuro. Al Arqam bin Abil Arqam 16 tahun. Menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul Shallallahu’alahi wasallam selama 13 tahun berturut-turut. Zubair bin Awwam 15 tahun. Yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai hawari-nya. Zaid bin Tsabit 13 tahun. Penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.

Atab bin Usaid. Diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai gubernur Makkah pada umur 18 tahun. Mu’adz bin Amr bin Jamuh 13 tahun dan Mu’awwidz bin ‘Afra 14 tahun. Membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar. Thalhah bin Ubaidullah 16 tahun. Orang Arab yang paling mulia. Berbaiat untuk mati demi Rasul Shallallahu’alaihi wasallam pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Nabi. Muhammad Al Fatih 22 tahun. Menaklukkan Konstantinopel ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa. Abdurrahman An Nashir 21 tahun. Pada masanya Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya. Muhammad Al Qasim 17 tahun. Menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya.

Islam sebagai suatu tatanan kehidupan yang mengatur tidak hanya urusan pribadi, masyarakat, bangsa dan peradaban dunia, memandang bahwa pemuda memiliki peran yang sentral dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara maupun dalam peradaban dunia.

  1. Memiliki semangat untuk mengatasi permasalahan umat dan bangsa (bi’tsul himmah min tasaa ulaat)

Setiap generasi akan memiliki problematika yang berbeda-beda tiap waktu dan tiap zaman. Pemuda Ibrahim memiliki problematika dimana masyarakatnya menyembah berhala. Menuhankan sesuatu yang dibuatnya sendiri. Maka Ibrahim muda tampil memimpin umat dan masyarakatnya. Menyadarkan terhadap problematika dasar yang dihadapi umat dan masyarakatnya.

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?”(QS. 21:52).

Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?(QS. 26:69).

Demikian halnya kepada Muda muda, ketika menghadapi kesombongan Fir’aun, apakah Musa muda berdiam dan pasrah dengan kedholiman Fir’aun?

Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas. (QS. 10:83).

  1. Sebagai generasi penerus (naqlul ajyaal)

Generasi penerus dalam konsep agama Islam adalah generasi yang memiliki akidah yang lurus, ibadah yang benar, akhlqul karimah, generasi ulul albab yaitu menggabungkan kekuatan ilmu pengetahuan dan dzikir kepada Allah.

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. 25: 74). 

  1. Sebagai gerasi pengganti (Istibdaalul ajyaal)

Generasi pengganti yang disiapkan oleh Allah SWT adalah generasi Islam terbaik, yang siap memiliki tanggung jawab umat dan bangsa. Bukan seperti saat ini, ketika kepimpinan dipegang oleh orang yang kurang mampu/professional dan amanah, maka akan terjadi fitnah. Fitnah kepada umat dan problematika masyarakat yang tidak kunjung usai. LGBT meraja lela, tingkat daya beli dan perekonomian masyarakat rendah, tidak memiliki kepekaan terhadap umat.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (5:54).

  1. Sebagai pembaharu moral umat (Tajdiidu ma’nawiyyatil ummah)

Umat saat ini rindu dengan suatu generasi yang bersih moralnya. Peduli dan berusaha menjadi bagian dari proses perbaikan umat, masyarakat dan bangsa. Kaum muslimin ditakdirkan Allah SWT menjadi generasi terbaik, yang memiliki tanggung jawab terhadap kemaslahatan umat, masyarakat dan bangsa.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. 3:110).

  1. Sebagai agen reformasi (anaashirul ishlaah)

Reformasi adalah suatu konsep Islam, reformasi berarti keinginan untuk perubahan dari suatu keadaan yang tidak baik menjadi lebih baik. Begitu dalam setiap aspek kehidupan manusia. Islam diciptakan untuk membawa kebaikan, menunjukkan jalan kebenaran, agar dengannya manusia mendapatkan jalan keberkahan.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. 2: 257). 

Demikianlah, sudah sangat jelas gambaran dalam Islam tentang bagaimana peran Pemuda, kedudukan, pandangan Islam dan arah Indonesia Baru yang ingin kita capai. Tinggal kemanakah langkah para pemuda-pemuda Indonesia ini akan dibawa. Akan tinggal diam berada di zona kenyamanan dan apatis dengan kondisi umat dan negeri, atau berdiri tegak, berlari dan berjuang bersama untuk membebaskan bangsa Indonesia dari tangan-tangan kotor nan keji penjajah negeri. []

Penulis, Dr Budi Harjo

Praktisi Pendidikan