Memaafkan Diri Sendiri (Bagian ke- 2)

0Shares

(Pancaran.net) – Sejak kita dilahirkan ke dunia, maka yang ada adalah: siap bertanding, tak ada waktu untuk berlatih. Life gives you no time to rehearse. Hidup tidak memberikan waktu bagi Anda untuk berlatih. Ya, karena persoalan hidup datang silih berganti, bertubi-tubi, seiring perjalanan usia kita. Jika satu kesulitan selesai, akan datang lagi kesulitan berikutnya. Makin hari, makin besar, makin rumit pula yang kita hadapi. Tak ada waktu untuk berlatih. Latihan dulu, mencoba dulu, jika berhasil baru menjalani. Tidak bisa! Sebab hidup bukanlah ajang ‘coba-coba’. Sekali hidup, maka Anda harus siap bertanding menghadapi semuanya.

Adakalanya kita menang, namun ada waktunya pula kita jatuh tersungkur. Kita merasa kalah, dipecundangi, kecewa, sakit, kerdil, marah, tidak mampu, merasa bersalah, hingga rasa sesal berkepanjangan. Mungkin permasalahan keluarga yang tidak bisa diselesaikan, pasangan yang selalu membuat kecewa, akhlak anak-anak yang buruk, pendidikan mereka yang tidak sesuai harapan, kehilangan pekerjaan, hubungan yang kurang harmonis dengan orang tua pasangan, rencana-rencana yang selalu gagal, target kehidupan yang tidak terpenuhi, dan masih banyak lainnya. Hal itu terkadang (sering kali?) membuat kita kecewa pada diri kita sendiri. Ujung-ujungnya menyalahkan diri sendiri.

“Betapa bodoh dan tololnya aku!”

Menurut Harre dan Parrot (1996), perasaan bersalah muncul karena kita telah melanggar hak-hak orang lain. Perasaan bersalah juga berkaitan erat dengan perbuatan kita yang bisa dikatagorikan melukai ataupun membahayakan orang lain, baik fisik maupun psikis, termasuk disengaja ataupun tidak disengaja. Hal inilah yang memicu timbulnya perasaan bersalah.

Perasaan bersalah itu muncul begitu saja karena kita berpikir telah menyakiti dan mengecewakan orang yang kita sayangi. Meskipun kesalahan itu timbul dari ketidaksengajaan kecil yang kita lakukan. Kita berpikir, apa yang kita perbuat itu, telah menghancurkan semua yang telah kita jaga dan kita bina. Suddenly life has happened. We didn’t have any chance to prepare for the tragedies that hit ourself. Tiba-tiba saja semuanya terjadi. Kita tidak punya kesempatan sama sekali untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai persoalan hidup yang menimpa kita.

Tragedi itulah yang kemudian menjadikan hari-hari kita penuh dengan asap berwarna buram: duka, kecewa, sesal, marah, malu, dan bermacam bentuk rasa sakit. Hari-hari dimana kita tidak siap menghadapi hidup, saat gagal memperjuangkan apa yang kita inginkan, dan saat kehilangan sesuatu milik kita yang paling berharga. Namun, bukankah ada hari-hari yang lain, selain hari-hari dengan warna buram tadi? Some days may bring pain, but we always have a choice between misery and joy. Acap kali kehidupan memberikan rasa sakit, namun kita selalu memiliki pilihan antara melaluinya dengan rasa duka atau suka cita.

“You are today where your thoughts have brought you; you will be tomorrow where your thoughts take you” (James Allen). Kita sebenarnya adalah produk dari pikiran kita sendiri. Pikiran dan persepsi tentang diri kita akan membawa sejauh mana, dan di mana kita berada. Siapa sebenarnya diri kita juga akan dipengaruhi oleh cara kita menilai ‘siapa saya?’. Persepsi, pikiran, pandangan tentang diri kita itulah yang akan merumuskan ‘siapa saya sebenarnya’.

Apakah saya orang yang jahat, orang yang mengecewakan, tidak berpikiran ke depan, emosional, sulit memaafkan, tidak punya toleransi, kolot, ataukah saya orang yang cukup baik, menyenangkan, berpikir optimis, mudah memaafkan, penuh toleransi, mudah menyesuaikan dengan lingkungan, dinamis, dan berbagai karakter lainnya, akan sangat ditentukan dari cara kita menilai diri sendiri. Mahatma Gandhi mengatakan, “A man is but the product of his thoughts. What he thinks, he becomes.” Manusia tidak lain adalah produk dari pikirannya sendiri. Ia akan menjadi sesuai apa yang ia pikirkan.

Ana ‘inda dzonni ‘abdi bii (Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku)”. Hadits Qudsi tersebut dapat dimaknai bahwa apa yang terjadi pada diri kita (sebagaimana kehendak Sang Pencipta) sepadan dengan persangkaan yang kita berikan. Apakah kita memandangnya sebagai hukuman atau ujian kenaikan? Apakah sebagai berkah atau bencana? Semuanya sesuai dengan persangkaan yang kita berikan. Sebab dengan persangkaan itulah, kita meyakini apa yang diperbuat Sang Pencipta atas peristiwa yang menimpa kita. Maka, memaknai permasalahan-permasalahan yang timbul dalam perjalanan bahtera rumah tangga, seharusnya tetap mengedepankan persangkaan yang baik. Bukankah tidak ada yang buruk yang menimpa seorang muslim? Jika mendapatkan nikmat ia bersyukur dan jika mendapatkan musibah ia akan bersabar.

Karena itulah, keberhasilan kita dalam ‘memaafkan diri sendiri’ juga sangat dipengaruhi bagaimana kita memandang diri kita dan kesalahan yang kita perbuat. Menghukum diri sendiri dengan terus-menerus merasa bersalah, satu sisi memang akan menunjukkan sejauh mana kualitas moral yang kita miliki. Biasanya, dengan semakin keras menghukum diri sendiri, kita akan merasa bahwa tingkatan moral yang kita miliki semakin tinggi. Namun, hal itu juga menunjukkan seberapa besar kekuatan yang kita punya untuk bisa pulih dari berbagai persoalan hidup.

Ada kesalahan-kesalahan yang sering kali kita tidak ingin melakukannya. Tapi, tiba-tiba saja, entah kenapa, mungkin lagi waktunya (karena lagi apes kata orang Jawa), kita melakukan kesalahan yang ‘sangat-sangat’ tidak ingin kita lakukan. Kesalahan itu juga terkadang datang begitu saja, tidak dinyana: salah bicara, sedikit konflik, tiba-tiba menyulut apa saja. Apapun, yang bisa dimasukkan sebagai objek kesalahan ikut-ikutan terbakar. Merembet pada hal-hal kecil yang seharusnya tidak pantas dilibatkan. Bahkan, kesalahan itu bisa berasal dari ide ataupun tindakan baik yang kita lakukan. Perbuatan baik yang kita harap akan ‘merekatkan’, justru malah ‘meretakkan’.

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung” (QS. Ali-Imran: 173). Dialah tempat sebaik-baik bersandar. Ketika kita tidak lagi menemukan tempat untuk bertumpu. Saat semua terasa buntu. Hanya Allah Yang Maha Azis, dzat yang kita kembalikan segala permasalahan. Karena kita tidak bisa mengatur dan memperjalankan sendiri takdir hidup kita, untuk itulah kita harus menyadari bahwa kita adalah manusia yang lemah. Makhluk yang tidak memiliki kekuatan. Ciptaan yang menjalani skenario dari Sang Maha Pencipta. Yang hanya bisa diatur, bukan mengatur. Yang sepenuhnya menerima, bukan berkuasa untuk memberi. Yang dikaruniai, bukan yang mengkaruniai. Yang bisa melakukan kesalahan, meskipun kita sangat tidak ingin melakukannya.

Maafkan diri Anda sendiri!

Berilah kesempatan bagi diri Anda untuk merasakan hari yang baru. Hari dimana Anda menyadari kesalahan, mempertanggungjawabkannya, mengingatnya agar tidak lagi terulang kekeliruan yang sama, lalu menggantinya dengan energi kebaikan yang Anda miliki. Cinta kasih, rasa sayang, ampunan, empati, toleransi, kepedulian, perhatian, rasa memiliki, keikhlasan untuk berbagi, ringan dalam memberikan pertolongan, adalah sebagian kecil dari energi kebaikan yang tersimpan dalam diri Anda.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5–6). Yakinlah, bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Bersama rasa sakit ada kegembiraan.

Bersama penyesalan ada harapan. Cukupkan meratapi keadaaan dan menyalah-nyalahkan diri sendiri. Tidak perlu lama-lama menghukum diri sendiri. Gantilah hukuman itu dengan energi positif yang Anda bagi kepada orang-orang yang Anda cintai. Istri, suami, anak-anak, keluarga besar, sahabat, tetangga, dan lingkungan sekitar Anda.
Biarkan mereka merasakan bahwa Anda telah menjadi orang yang baru. Biarkan orang lain merasakan kebaikan yang Anda miliki. Jadikan hal ini sebagai ‘hukuman’ atas kesalahan yang telah Anda lakukan. Hukuman yang bukan mengasingkan tapi justru meningkatkan kualitas hidup yang Anda miliki. []

Penulis, M. Nurul Furqon

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta