Memaafkan Diri Sendiri (Bagian – 1)

0Shares

(Pancaran.net) – Pernahkah kita merasa sangat-sangat marah pada diri sendiri? Kecewa, menyesal, depresi berkepanjangan karena kesalahan maupun kebodohan yang telah kita perbuat. Bahkan, untuk memaafkan diri sendiri saja, rasa-rasanya tidak mungkin. Terkadang, memaafkan orang lain terasa lebih mudah daripada memaafkan diri sendiri. Mengapa?

Melakukan kesalahan, tindakan-tindakan jahat, kecurangan-kecurangan, akan membuat kita menyesal di kemudian hari. Karena hal itu dapat menghancurkan apa yang telah kita jalani sebelumnya: pernikahan, keluarga, pekerjaan, persahabatan, hubungan sosial, citra diri, dll. Perasaan malu, putus asa, penyesalan, kehilangan harapan, depresi, stress berkepanjangan, berkurangnya kebahagiaan, adalah sebagian dari dampak-dampak negatif yang ditimbulkan.
Kesehatan mental dan perasaan kita tergantung dari kemampuan mengesampingkan rasa sakit dan kemarahan—bahkan pada diri kita sendiri. Cara yang paling mudah adalah dengan memaafkan. Para peneliti di Universitas Standford California telah melakukan penelitian tentang efektivitas ‘memaafkan’. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa dengan ‘memaafkan’, seseorang dapat meningkatkan kualitas hidupnya, memperbaiki hubungan sosialnya bahkan meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. Selain itu, diperoleh juga kesimpulan lain, bahwa untuk bisa memaafkan, pertama kali seseorang harus mampu memaafkan dirinya sendiri.

Banyak orang yang beranggapan bahwa memaafkan diri sendiri berarti melupakan kejadian-kejadian maupun tindakan yang telah diperbuat di masa lalu. Padahal, arti semacam itu justru akan menjerumuskan pada pemahaman yang keliru. Sharon A. Hartman LSW., seorang peneliti dari Caron Foundation Pensylvania menjelaskan bahwa setiap hari manusia butuh untuk memaafkan dirinya sendiri. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan ini diperlukan untuk mengobati semacam penyakit yang bersumber pada rasa malu dan kecewa pada diri sendiri. Penyakit ini, jika dibiarkan, akibat dan bahayanya sama dengan penyakit kanker.

Hartman mengatakan bahwa kemarahan, rasa sakit, dan kecewa yang diderita merupakan sebuah bentuk hukuman. Tidak ada yang benar-benar bisa menyakiti diri kita kecuali diri kita sendiri. Banyak orang yang tidak ingin melepaskan rasa sakit, kecewa dan kemarahan pada dirinya karena beranggapan bahwa hukuman ini pantas mereka dapatkan sebagai imbalan atas kesalahan yang telah dilakukan. Mereka ingin selalu merasa berdosa. Karena yakin, hanya dengan cara inilah mereka menebus kesalahan di masa lalu. Akan tetapi, justru di titik inilah, seseorang harus mulai belajar cara memaafkan dirinya sendiri.

Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali” (HR. Bukhari). Lihatlah, bagaimana Nabi Muhammad Saw. dalam memohon ampun dan bertaubat setiap harinya. Baginda Nabi Saw., melakukannya lebih dari 70 kali setiap harinya. Bahkan, di riwayat lainnya, beliau melakukannya lebih dari 100 kali. Istighfar dan taubat, selain dimaknai sebagai bentuk penyesalan dan memohon ampun kepada Allah SWT, juga menjadi upaya dalam memaafkan diri sendiri.

Dalam konteks psikologi, memaafkan diri sendiri tidak berarti menghukum dengan melampiaskan kemarahan atau kebencian pada diri Anda sendiri. Memaafkan diri sendiri juga tidak berarti Anda bisa seenaknya melepaskan tanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan. Namun, memaafkan diri sendiri berarti Anda menyadari bahwa di masa lalu Anda pernah melakukan kesalahan, menerimanya sebagai sebuah sifat ketidaksempurnaan manusia, dan menyadari sepenuhnya bahwa Anda telah mendapatkan pelajaran atas kesalahan tersebut.

Salah satu ciri orang yang telah memaafkan dirinya adalah ingatan akan kesalahannya di masa lalu tidak lagi menimbulkan rasa sakit dan kemarahan. Meskipun tidak berarti melupakan peristiwa yang telah terjadi, tapi justru menggunakannya sebagai tekad untuk mengubah dan memperbaiki hidupnya menjadi lebih baik. Ia juga bertekad untuk tidak mengulang kesalahan yang sama.

Enright (1996) menjelaskan, yang dimaksud dengan ‘memaafkan diri sendiri’ adalah kemauan untuk membebaskan rasa marah terhadap diri sendiri atas kesalahan yang telah dilakukan, kemudian menggantinya dengan cara menumbuhkan rasa belas kasih, kemurahan hati, dan cinta terhadap sesama. Enright juga menambahkan bahwa proses memaafkan diri sendiri ini bersumber dari perasaan bersalah, menyesal, dan malu.

Seseorang yang—menurut persepsinya—telah melakukan kesalahan besar sering kali sangat susah untuk bisa memaafkan dirinya. Ia merasa sangat bersalah dan beranggapan bahwa perasaan bersalahnya tidak cukup dihapus dengan hanya memaafkan dirinya sendiri. Jika hal ini terjadi, maka sesungguhnya Anda sedang berjuang secara mental dan emosional. Perasaan bersalah akan menjadi bayang-bayang yang selalu mengikuti akal sehat Anda. Mempengaruhi setiap keputusan dan membuat perasaan Anda selalu terbebani.

Perasaan bersalah sering kali diakibatkan oleh sejauh mana seseorang menerapkan standar terhadap nilai moral. Karena itulah, untuk sebuah kesalahan yang sama, bisa jadi setiap orang akan memiliki persepsi dan perasaan yang berbeda. Untuk contoh kasus yang sama seseorang akan merasa sangat-sangat bersalah bahkan menyesal berkepanjangan, yang lain merasa bersalah sebentar kemudian kembali seperti biasa, dan yang lain lagi merasa tidak terjadi apa-apa, seakan ia tidak pernah melakukan kesalahan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa ada perbedaan mendasar antara malu (shame) dengan perasaan bersalah (guilt). Malu, cenderung menjabarkan tentang sifat/kepribadian seseorang, sedangkan perasaan bersalah merujuk pada perilaku. Rasa malu diakibatkan oleh perasaan bahwa ia telah melakukan tindakan yang memalukan sehingga ia seakan-akan berkata, “Aku adalah orang yang jahat.” Rasa malu ini biasanya diikuti oleh rasa ciut, merasa kecil, tak berharga, dan tidak memiliki kemampuan. Ironisnya, dari hasil penelitian didapatkan, bahwa rasa malu tidak mendorong seseorang melakukan tindakan konstruktif. Mereka justru bersikap acuh tak acuh, defensif, menghindar, mengesampingkan perasaan bersalah, menolak bertanggung jawab, bahkan menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri. Semua itu dilakukan sekadar untuk menutupi perasaan malu yang dirasakan.

Berbeda dengan perasaan bersalah. Guilt justru membuat seseorang merasakan ketegangan, penyesalan, sehingga mendorong timbulnya rasa menyesal berkepanjangan. Perasaan bersalah akan memicu ekspresi, “Aku telah melakukan kesalahan”, bukan, “Aku adalah orang yang jahat.” Perasaan bersalah inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk melakukan tindakan konstruktif; seperti mengakui kesalahan, meminta maaf, merekatkan hubungan, memberikan ganti rugi, ataupun tindakan-tindakan lain yang bertujuan untuk memperbaiki kesalahan.

Jika Anda merasa bersalah atas tindakan yang pernah Anda lakukan, maka bersyukurlah karena Anda sudah berada di trek yang tepat untuk mendaki puncak pintu permaafan. Sebab, merasa malu saja tidak cukup. Karena perasaan malu tidak mempunyai efek keluar, hanya efek di dalam diri Anda sendiri. Namun, Anda juga jangan terlalu lama berkutat dengan perasaan bersalah. Karena semakin dalam Anda dihantui perasaan bersalah, semakin lama pula waktu yang Anda perlukan untuk pulih kembali.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Az-Zumar: 53). Selalu ada pintu untuk kembali. Melepas penat dan mengendurkan beban kehidupan. Bukan menghindar, tapi bertanggung jawab atas kesalahan yang diperbuat. Maafkan diri Anda sendiri. Berilah kesempatan bagi diri Anda untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah lalu.

Jangan berputus asa. Sebab pintu-Nya selalu luas terbuka!

Penulis, M. Nurul Furqon

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta