Jitu & JIB Gelar Road Show Bedah Buku, ‘Dari Kata Menjadi Senjata’ (Bagian-2)

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – Pada tahun 1948 terjadi pemberontakan PKI di Madiun yang dipimpin oleh Muso, yang baru saja pulang dari perjalanannya di Unisoviet. Sebelum peristiwa memilukan tersebut terjadi di Indonesia baru saja terjadi peristiwa pergantian kepemimpinan dari Perdana Menteri Sutan Sjahrir kepada Perdana Menteri Amir Syariffudin keduanya dari Partai Sosialis. Pada masa itu pula bangsa kita, Indonesia mendapat serangan Agresi Militer 1 Belanda hingga muncullah Perjanjian Renville yang ternyata justru merugikan Indonesia.

“Singkat cerita pemerintahan Amir Syariffudin digulingkan dan digantikan dengan pemerintahan Hatta, karena dianggap gagal dalam perjanjian Renville dan ditariknya dukungan partai-partai, pada masa itu gerakan kiri terpecah-pecah mulai dari gerakan buruh, sosialis, ada PKI” kata Beggy menjelaskan peristiwa sejarah munculnya gerakan PKI di Madiun pada 1948.

PKI saat itu telah memiliki nama tokoh yang terkenal yaitu Muso, yang baru saja pulang dari perjalanannya di Unisoviet. Setelah pulang dari Unisoviet Muso menyatukan seluruh elemen gerakan kiri di Indonesia yang ada saat itu. Partai Sosialis (Sutan Sjahrir dan Amir Syariffudin-red) terpecah menjadi dua Sjahrir membentuk Partai Sosialis Indonesia ( PSI) sementara Amir Syariffudin membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR).

Selain bersatunya kalangan kiri di bawah kendali Muso dan PKI, peristiwa di Madiun juga dilatar belakangi oleh peristiwa konflik internal di tubuh TNI yang pada saat itu, Divisi Siliwangi dan Divisi Panembahan Senopati. Selain itu berbagai peristiwa sejarah yang melatar belakangi peristiwa G 30S/PKI pada tahun 1965. Salah satunya ialah ketika Aidit pada tahun 1950 menuliskan sebuah buku tentang pembelaanya pada PKI.

“Pada tahun 1950 Aidit menulis buku berjudul Menggugat Peristiwa Madiun, yang intinya membela PKI pada peristiwa 1948, kalau mereka mau meberontak atau diprofokasi ngapain PKI membunuh kyai-kyai, santri, dan pesantren,” ucap Beggy.

Salah satu pondok pesantren turut menjadi korban kebiadaban PKI ialah pesantren di Kabupaten Magetan. Hal berikutnya yang menjadi miris ialah ketika berbicara pemberontakan PKI maka akan fokus hanya satu titik saja yakni peristiwa pada tahun 1965. Padahal  pada tahun-tahun sebelumnya yakni pada 1927, 1948, dan 1955 PKI punya track record yang tidak biasa-biasa saja mereka terlibat dalam peristiwa pemberontakan dan menjadi empat besar pemenang pemilu tahun 1955.

PKI merupakan organisasi politik bersifat transnasional, ketika kader-kader PKI ingin mengaktifkan kembali PKI di Indonesia pasca peristiwa di Madiun, mereka terlebih dahulu mengirimkan surat ke Partai Komunis Cina, yang lantas diteruskan ke Moskow yang pada saat itu masa Stalin.

Artinya PKI akan terus menginduk pada partai pusatnya, hasil kerja keras kader-kader PKI menghasilkan berbagai organisasi seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), Sentral Organsasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Pemuda Rakyat, Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI), Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI), Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) dan lain-lain.

Hal unik lainnya tentang PKI ialah tentang cara mereka memaknai  Pancasila. Pada tahun 1963 Aidit menyampaikan tentang fungsi Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa, dikarenakan perbedaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia contohnya latar belakang gerakan mereka yang terdiri dari kaum nasionalis, agamis dan komunis. Aidit juga memberikan penafsiran jika keberadaan Pancasila terutama sila pertama adalah sebuah fakta bahwa mayoritas masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beragama.

“Yang betul itu sebagaimana dikatakan Hatta bahwa sila-sila yang satu  menjelaskan sila-sila yang lainnya, dan memang PKI tidak pernah menyibukan dalam propaganda anti agama, itu di kalangan elit tapi di akar rumput itu terjadi, ada pementasan ketoprak Matine Gusti Allah,” jelas Beggy. []

Reporter: Kukuh Subekti