Jitu & JIB Gelar Road Show Bedah Buku, ‘Dari Kata Menjadi Senjata’ (Bagian-1)

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – Jurnalis Islam Bersatu dan Komunitas Jejak Islam untuk Bangsa menggelar road show bedah buku yang berjudul, Dari Kata Menjadi Senjata. Buku ini merupakan buku sejarah konfrontasi Partai Komunis Indonesia dan Umat Islam di Indonesia.

Fajar Shadiq sebagai seorang jurnalis dari JITU sekaligus nara sumber pertama menyebutkan bahwa keberadaan buku tersebut sebagai salah satu sumber sejarah dari kalangan umat Islam. Pasalnya banyak penulisan sejarah tentang kebiadaban PKI di Indonesia itu berasal dari kalangan kiri. Satu-satunya sumber informasi sejarah yang ada hingga 54 tahun dari peristiwa 30 September 1065 ialah film G 30S/PKI yang diproduksi oleh pemerintah.

“Buku ini memulai proyeknya pada tahun 2016, bersama teman-teman keliling daerah selama 10 hari ke Madiun, Surabaya, Solo, Yogya menemui saksi-saksi yang masih hidup,” ungkap Fajar pada sesi awal kegiatan bedah buku di Masjid Nurul Iman Kalitan, Solo (5/10).

Sementara salah seorang dari tim penulis buku, Dari Kata Menjadi Senjata, Beggy Rizkiansyah mengungkapkan jika keberadaan film 30S/ PKI yang dibuat oleh pemerintah hingga saat ini sudah kurang relevan. Terutama untuk menghalau isu-isu PKI yang beredar di era kekinian seperti saat ini. Belum lagi sejumlah adegan dalam film dinilai memberikan efek trauma seperti adegan sayatan, penyongkelan mata padahal keberadaan adegan itu hanya sebagai bumbu dalam sinematografi. Hal tersebut juga dibenarkan oleh para saksi hidup, dan informasi inilah yang Umat Islam banyak ketinggalan.

Beggy juga mengungkapkan meskipun buku ini berasal dari hasil wawancara saksi yang masih hidup tapi buku ini tidak memuat semua kesaksian sejarah. Melalui buku ini pula ada sumber data baru yang sudah sewajarnya umat Islam menyusun sejarahnya sendiri. Karena faktanya gerakan kiri, komunisme itu lahir dari rahimnya umat Islam, Sarekat Islam (SI).

“Organisasi pertama, terbesar justru disitu muncul gerakan komunisme, dibawa tokoh dari Belanda, Sneevlit bertemu dengan Semaoen pegiat SI Semarang, Semaoen masih muda paling cerdas dan Semaoen tertarik karena jarang-jarang pada saat itu ada bule yang mendatangi orang kita, Hindia Belanda,” kata Beggy dihadapan jamaah Masjid Nurul Iman Kalitan Solo.

Ketertarikan sosok Semaoen dengan ajaran komunis yang dibawa oleh tokoh sosialis Belanda, Sneevliet itu membuat gerakan SI Semarang semakin melenceng dari haluan organisasi karena spirit perjuangan SI bukan lagi spirit ke-Islaman. Organisasi Islam memperjuangkan Islam, tetapi tidak dengan cara-cara Islam dan hal ini yang ditentang oleh Kyai Agus Salim, Abdul Muis. Sementara pada saat itu Tjokro Aminoto merupakan tokoh SI yang masih berusaha untuk mempersatukan keduanya (SI-merah dan SI-putih- Red).

Pada awal kedatangan gerakan komunis disambut dengan sangat baik oleh bangsa Indoesia karena dianggap sebagai simbol perlawanan atas penjajahan. dr. Tjipto Mangoenkoesoemo melalui surat kabarnya memuat tulisan milik Sneevliet. Pada 23 Mei tahun 1920 Partai Komunis Indonesia (PKI) resmi didirikan dengan menjadikan komunis Rusia sebagai kiblat organisai mereka.

“Banyak kemudian cabang-cabang Sarekat Islam yang dicaplok oleh aktivis-aktivis PKI, mereka membuat syariat rakyat namanya,” ujarnya.

Setiap gerakan komunis merupakan gerakan transnasional atau lintas negara yang berpusat di Moskow, Uni Soviet. Sebelum peristiwa pemberontakan PKI tahun 1927 meletus di Indonesia, mereka terlebih dahulu melakukan konsultasi ke Stallin. Stallin tidak sepakat dengan rencana pemberontakan yang diajukan oleh PKI karena pada saat itu mereka tidak dalam posisi yang kuat, begitupun sosok Tan Malaka dia pun tidak sepakat dengan rencana pemberontakan. Karena pada saat jarak itu terlalu jauh antara Uni Soviet dan Indonesia maka pertempuran tetap berlangsung.

Beggy menjelaskan bahwa ulama di Solo dan Minangkabau pada saat itu bukan tidak ada yang berpikiran bahwa komunisme dan Islam tidak bertentangan. Misal Haji Misbah yang misalnya berpikir jika komunis pasti Islam, kalau Islam pasti komunis (bersambung). []

Reporter: Kukuh Subekti