Muhadjir Effendy Amanatkan Manajemen Berbasis Sekolah

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy memberikan amanat kepada sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan dengan dilandasi oleh manajemen berbasis sekolah. Amanat tersebut disampaikannya pada saat peresmian Gedung Sekolah SMP dan SMA Muhammadiyah PK Kottabarat, Surakarta pada Jumat (4/10).

Mendikbud, Muhadjir Effendy  berpendapat jika seluruh aktivitas belajar anak harus terpantau oleh pihak sekolah. Dia menyampaikan salah satu contoh kebijakan yang diterapkan selama dia menjabat sebagai menteri. Kebijakan yang sempat mengundang pro dan kontra itu ialah kebijakan fullday school, karena beberapa kalangan masyarakat menolaknya.

“Sekolah swasta saya dorong ke full day tapi kalau yang negeri kalau tidak berani  full day ya pokoknya ketika anak itu di luar sekolah, kepala sekolah dan guru harus bertanggungjawab, memastikan anak itu belajar, belajar apa saja, termasuk belajar magang ke orangtuanya sesuai profesi orangtuanya,” ujarnya terkait anak-anak yang membantu pekerjaan orangtua usai pulang sekolah.

Kebijakan tersebut pun mendapat persetujuan dari Wapres Jusuf Kalla, karena keberhasilan JK menjadi pengusaha ialah berkat dia membantu orang tuanya bekerja di toko setelah dia pulang sekolah. Lebih lanjut bahwa di masa yang akan datang standar penilaian yang  lebih penting adalah di luar raport akademis, yakni raport di luar sekolah. Raport akademis akan diubah dan disesuaikan dengan standar kompetensi internasional yang terdiri dari tiga kompetensi dasar matapelajaran seperti matematika, sains dan bahasa.

Visi Pendidikan Modern

Visi pendidikan modern lebih mengutamakan pendidikan karakter bagi setiap anak didiknya, sebagai mana yang dilakukan oleh negara-negara maju. Singapura misalnya sudah meniadakan ujian karena semangat kompetisi antar pelajar di negara tersebut menyebabkan anak-anak sekolah banyak yang bunuh diri. Peniadaan ujian bagi siswa SD, SMP dan SMA  dan difokuskan pada pembangunan karakter kepribadian siswa.

Hal berikut yang menjadi fokus sekolah ialah memiliki keseimbangan dalam penguasaan ilmu baik ilmu umum maupun ilmu agama. Sebagaimana diketahui di Indonesia banyak sekali muncul sekolah tahfidz, penghafal Al-Qur’an karenanya dia berharap selain menjadi tahfidz siswa juga harus memiliki kompetensi di tiga ilmu seperti matematika, sains dan bahasa.

“UNESCO itu untuk mengukur tingkat kemajuan belajar siswa secara internasional yang dipakai itu tiga ini (matematika, sains, dan bahasa-Red), nama tesnya PISA yaitu Programme for International Student Assessment”, kata Mendikbud.

Pihaknya meminta agar sekolah-sekolah, khususnya sekolah di Perguruan Muhammadiyah tidak ketinggalan dalam penguasaan tiga  mata pelajaran tersebut. Mengingat  PISA Indonesia hingga saat ini berada pada titik kedua dari bawah dari 67 negara peserta di dunia. Evaluasi terhadap penyebab rendahnya PISA pun sudah dilaksanakan hal ini dikarenakan sistem pendidikan kita masih fokus pada aspek mengetahui-menghafal-kemampuan menjawab hafalan, sementara PISA sudah menggunakan sistem mengetahui dan menghafal hanya sebagian dikarenakan sistem hafalan sudah dilakukan oleh otak buatan sebagaimana ada di dalam alat-alat modern seperti kemajuan dunia digital.

“Kemampuan menghafal sudah diambil alih oleh artificial intelligence atau kecerdasan buatan, tetapi ada tiga level yang tidak mungkin diambil alih  artificial intelligence pertama yaitu bernalar kritis, yang berikutnya melakukan evaluasi, penilaian terhadapa apa yang diketahui dan yang ketiga mencari solusi,” ungkapnya.

Mendikbud menambahkan kemampuan dalam memberikan standar penilaian yang harus dimiliki oleh setiap anak ada tiga hal, pertama mengetahui hal yang benar dan salah dengan logika, standar baik-buruk dengan agama, kreativitas dalam memecahkan suatu masalah. Tiga hal di atas tidak akan mungkin digantikan oleh kecerdasan buatan karena di dalamnya ada sifat-sifat Allah yang diturunkan langsung kepada setiap manusia. Oleh karenanya seseorang tidak boleh membanggakan kecerdasan buatan semaunya sendiri karena kecerdasan buatan pun bergantung pada adanya kreativitas manusia. []

Reporter: Kukuh Subekti