Gelora Kaum Muda Solo Sebelum Peristiwa 65

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – Kaum muda pada setiap zaman memiliki gelora zaman yang berbeda begitupun gelora kaum muda Solo sebelum 1965. Peristiwa 1965 menjadi peristiwa kelam yang tidak nyaman untuk dikenang oleh siapapun.

Peristiwa 1965, merupakan peristiwa tragis berdarah yang tak satupun orang ingin mengenangnya kembali. Peristiwa Kedungkopi misalnya, saksi bisu pembantaian warga Solo oleh oknum PKI yang korbannya terdiri dari kalangan muda Solo. Mereka yang meninggal adalah anak-anak muda terbaik di zamannya, karena sebagian dari mereka adalah aktivis muda di Pemuda Muhammadiyah dan Pemuda Marhaen.

Lantas bagaimana situasi kehidupan kaum muda kala itu? Seperti apa kegiatan mereka dalam keseharian. Berikut kisah penuturan Usman Amiruddin (80), seorang pemuda yang aktif di organisai Pemuda Muhammadiyah Kota Surakarta. Pada saat peristiwa  tragis tepatnya tanggal 22 Oktober 1965 meletus Usman sudah berusia 26 tahun.

Usman mengisahkan anak muda kala itu adalah anak muda yang bahagia mereka biasa menikmati berbagai kesenangan “duniawi”. Salah satunya adalah mereka suka sekali berjoged dengan diiringi oleh alunan musik, hingga terbentuklah komunitas (geng), jumlah geng yang beranggotakan anak muda itu tersebar merata di Kota Solo. Tak jarang keributan antar geng biasa terjadi, hampir setiap saat mereka terlibat dalam perkelahian.

“Jadi jamannya sebelum G 30S itu banyak sekali geng-geng tapi sifatnya hanya kenakalan, nggak kriminal jadi cuman berkelahi, yang agak esktrim itu kalau Pemuda Marhaenis ( organisasi pemuda milik PNI-Red) dan Pemuda Rakyat (organisasi pemuda milik PKI-Red) sering berbenturan dan pasti yang di bela oleh pemerintah daerah itu Pemuda Rakyat (PKI di Solo saat itu mayoritas-Red),” kata Usman saat ditemui di kediamannya di Kelurahan Bumi, Kecamatan Laweyan belum lama ini.

Usman melanjutkan penuturannya dengan menyampaikan beberpa hal terkait kehiupan anak muda Solo pada saat itu. Anggota geng terdiri dari anak-anak usia SMA, setiap wilayah itu ada gengnya dan diberi nama setiap geng dengan nama Banteng Prabu ( Keprabon) yang terdiri atas anak-anak Pemuda Marhaen, pemberian nama grup ditentukan berdasarkan nama kelurahan atau daerah. Pada waktu itu yang membuat grup, geng hanya teman-teman Pemuda Marhaenis.

“Mereka, Pemuda Marhaenis paling sering berantem dengan Pemuda Rakyat tapi hanya kenakalan pemuda biasa, tidak sampai ada korban jiwa dan perkelahiannya sifatnya insidentil,” jelasnya.

Sementara organisasi pemuda-pemuda Islam ekstra kampus seperti HMI, PII, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Ansor mereke banyak bergerak di bidang seni. Misal sosok Muslih, Dimyati, Husain ketiganya merupakan kader-kader HMI, selain dibidang seni saat itu mereka aktif dalam diskusi intern organisasi.

Solo Sebelum Tahun 1965

Solo merupakan kota yang nyaman, kota yang tidak pernah tidur karena jam berapapun ke luar mencari makan, jalan-jalan tetap ramai terutama kawasan Pasar Legi. Selanjutnya mulai tahun 1960-an muncul grup dansa atau dancing hampir setiap malam Ahad atau Sabtu malam di Solo terdapat acara-acara dansa. Acara tersebut hanya diikuti oleh kalangan pemuda pribumi dengan bermodal jas atau bagi perempuan menyesuaikan.

“Pada waktu itu kegiatan dansa diimbangi dengan trend kacamata night and day kalau malam dia bening, kalau siang dia agak coklat karena itu harganya mahal muncul kacamta night and day yang tiruan kemudian sepatu beatle (era kejayaan grup band The Beatles-Red),” tutur Usman mengenang masa-masa mudanya pada tahun 1960-an.

Pada waktu itu pemerintah Sukarno tidak suka jika ada pesta-pesta, pemerintah melalui CPM atau polisi militer merazia pesta-pesta  dan membubarkannya. Selain pesta pada saat itu pemerintah melarang grup band Koesploes, karena dinilai membawa pengaruh musik barat. Padahal pada waktu itu lagu-lagu Koesploes diputar sebagai lagu-lagu pesta dengan masih menggunakan teknik piringan hitam.

Ada peraturan yang waktu itu cukup ketat dilakukan oleh Presiden Soekarno yakni pelarangan memakai celana cutbray. Celana tersebut merupakan produk Barat yang tidak diizinkan oleh Soekarno, pada saat itu polisi melakukan razia pemakaian celana dikalangan kaum muda dengan menyobeknya atau mengguntingnya langsung.

“Pada waktu itu kehidupan kalangan pemuda lebih banyak diisi dengan hura-hura dan itu mengurangi adanya perkelahian, setelah ada pesta dan itu mengurangi adanya perkelahian,” imbuhnya.

Rumah Usman dan keluarga pada tahun 1965 masih di daerah Keprabon.  Pada waktu itu rumahnya dijadikan posko teman-teman muda yang suka berlelahi tapi tidak tergabung dalam ormas apapun. Makanya mereka memberi nama OPS yaitu Organisasi Pengangguran Surakarta. Meskipun kegiatan berpesta itu dilarang tapi tidak berlaku bagi Usman dan OPS, jalinan pertemanan yang baik dengan CPM, membuat kegiatan pesta dansa di tempatnya menjadi paling tidak akan terkena razia.

Saat itu grup pesta yang paling besar di Kota Solo bernama Teenagers Dancing Club (TDC) yang berpusat di Danusuman, Serengan rumah kediaman dokter Slamet. Dakwah ke-Islaman saat itu belum terlalu bergeliat seperti saat ini, atmosfer dakwah mulai menghangat pada saat setelah peristiwa G 30S. Usman sendiri baru memutuskan berhijrah satu tahun sebelum peristiwa G 30S yakni pada tahun 1964.

Usman pada tahun 1964 mendapat undangan dari Pemuda Muhamamdiyah yang ditujukan langsung ke rumah Usman yang merupakan posko para pemuda paling banyak di Kota Solo. Karena dianggap paling tua Usman diminta teman- teman mewakili grup OPS, tentu dia terlebih dahulu menawarkan kepada teman-temannya. Teman-temannya pun mengatakan kalau dia senang dengan kegiatan di Gedung Dakwah Aisyiyah, Keprabon tersebut maka teman-temannya pun akan ikut bergabung dengan Pemuda Muhamamdiyah.

“Saya pulang, saya senang akhirnya mendirikanlah Pemuda Muhamamdiyah Keprabon, Alhamdulillah kok pada tahun 1964 kami sudah aktif sehingga pada tahun 1965 kami sudah Pemuda Muhammadiyah, kalau ndak kan menjadi tanda tanya tapi kami sebelum masuk Muhammadiyah musuh kami adalah PKI, hampir semua yang kumpul di rumah saya semua anti PKI cuman belum punya wadah,” ucap Usman.

Usman bersyukur karena dia masuk menjadi bagian dari Pemuda Muhammadiyah Surakarta sebelum peristiwa tragis tahun 1965 terjadi. Dia tidak bisa membayangkan jika dirinya dan teman-teman yang merupakan geng-geng kepemudaan paling besar dan disegani tidak bergabung dalam barisan Pemuda Muhamamdiyah Surakarta. Sebuah nikmat hidup yang dikenang olehnya dan teman-teman karena ketika peristiwa itu meletus dia telah aktif dan berkecimpung di kegiatan Pemuda Muhamamdiyah sehingga semakin meningkatkan rasa percaya dirinya dan teman-teman dalam memerangi PKI. []

Reporter: Kukuh Subekti