Pesan Ketua Forum Aliansi Umat Islam Bersatu: “DPR Ojo Koyo Telo”

0Shares

MAGELANG, (Pancaran.net) – Sebanyak 575 anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI resmi dilantik untuk masa jabatan tahun 2019 hingga 2024 pada Senin, (1/10/2019). Dalam Pelantikan yang digelar di Ruang Paripurna I, Gedung Kura-kura, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, tersebut akhirnya terpilih Puan Maharani sebagai ketua DPR RI.

Sementara untuk posisi wakil DPR RI ada Aziz Syamsuddin dari partai Golkar, Sufmi Dasco Ahmad partai Gerindra, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dari PKB, dan yang terkahir ada nama Rahmad Gobel dari partai Nasdem.

Keempat tokoh tersebut diusulkan masing masing partai yang mendapatkan suara terbanyak dalam pemilu 2019 untuk mendampingi Puan Maharani dari partai PDIP untuk memimpin DPR RI 5 tahun kedepan.

Ketua Forum Aliansi Umat Islam Bersatu (FAUIB) Jateng DIY Anang Imammudin ikut berkomentar terkait dilantiknya anggota DPR RI yang baru tersebut, ia berharap 575 anggota DPR RI tersebut bisa mewakili dan memperjuangkan aspirasi rakyat Indonesia.

“Mereka mewakili rakyat walaupun berangkat dari partai masing-masing. Mereka harus menjadi wakil rakyat bukan wakil partai ketika berbicara masalah rakyat, bangsa dan negara,” ujarnya kepada Pancaran Kamis, (3/10/2019).

Sesuai sumpah janjinya, katanya, bahwa akan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi, golongan atau kelompoknya.

“Seperti memang ideal dan manis didengar tapi rasa pesimisme itu selalu ada karena DPR RI selama ini menjadi sorotan kadang lebih membela penguasa atau segelintir kepentingan dibandingkan membela rakyatnya,” katanya.

Lebih lanjut ia meminta DPR RI “Ojo Koyo Telo”, sebuah ungkapan wong ndeso yang sangat orisinil, jujur dan kritis. Walaupun biasanya disampaikan dengan nada guyon.

Telo artinya ketela. Itu adalah makanan orang-orang desa. Ketela pohon atau “telo jendral” biasa direbus dan disantap bersama secangkir teh panas atau segelas kopi.

Telo, ini empuk tapi bikin seret di tenggorokan. Kadang ada juga istilah telo mogol yaitu ketela yang gagal direbus sehingga masih keras dan kalau dimakan tidak enak. DPR RI jangan kayak telo, apalagi telo mogol.

Sebagai orang desa, Anang berharap, DPR RI periode 2019-2024 ini jangan seperti telo. Janji-janji empuk didengarkan oleh rakyat tetapi seret (bikin susah) rakyat, tidak terbukti janji-janji dan omongannya. Jangan sampai anggota dewan yang terhormat tersandera kepentingan kekuasaan dan konglomerat hitam sehingga rakyat justru menjadi korban dari undang undang yang dibuat.

“Saat ini, mahasiswa dan rakyat sedang delegitimasi atau tidak percaya terhadap kinerja DPR RI terutama periode kemarin. Jangan sampai DPR RI periode ini melanjutkan keburukan yang ada dan lebih memperparah citra DPR RI di mata rakyat,” tandasnya. []

Reporter: Ristyan A