Pesan Din Syamsudin pada Warga Muhammadiyah

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (Ketum PP) Muhammadiyah, Din Syamsudin belum lama ini mengisi kuliah subuh di Balai Muhammadiyah Surakarta Ahad (29/09). Pada kesempatan tersebut dia berpesan pada warga Muhammadiyah untuk senantiasa menjaga prinsip-prinsip ber-Muhammadiyah dalam keseharian. Menjadikan sosok Nabi Muhammad sebagai suri tauladan dalam beribadah dan bermuamallah.

Din yang pada kesempatan itu diundang langsung oleh Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM)  Kota Surakarta memberikan ceramah singkatnya tentang berbagai fenomena sosial masyarakat, terutama umat Islam. Lebih dulu dia mengawali ceramahnya perihal beratnya mengemban status sebagai warga Muhammadiyah. Setiap orang yang memilih ber-Muhammadiyah berarti dia memilih menjadikan Rasulullah Muhammad sebagai panutan hidup.

“Seseorang yang memilih bermuhammadiyah ini berat sekali, tentu yang paling penting kita hanya berpedoman pada dua peninggalan Rasulullah hanya berpegang teguh terhadap Al-Qur’an dan Assunah. Ini tidak sederhana, berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Assunah, karena dewasa ini umat Islam banyak terjebak pada perbedaan pendapat lantaran terdapat perbedaan mereka terhadap sumber-sumber Islam,” ujarnya.

Selain masalah perbedaan pendapat di kalangan umat Islam Din juga menyampaikan perihal spirit hidup yang semestinya dimiliki oleh umat Islam khususnya Warga Muhammadiyah. Warga Muhammadiyah harus memiliki kuasa ekonomi, harus kaya karena setiap hari minimal selama 17 kali pada shalat wajib kita membaca warzuqnii, setelah selesai salam maka kita harus memiliki semangat etos kerja. Konsekuensi logisnya ialah orang Islam harus kaya, supaya dia bisa maksimal dalam beribadah kepada Allah seperti sedekah, dan pergi menunaikan ibadah haji.

“Jadi orang kaya, punya kuasa ekonomi setelah kaya bisa berhaji, umrah, sedekah, infaq untuk membangun amal-amal kebajikan sekolah, rumah sakit dan kita  pagari umat ini untuk tidak mudah dibeli oleh pihak-pihak lain khususnya dalam pemilu yang punya slogan nomer piro wani piro (nomor berapa berani berapa-Red),” katanya.

Hal lain yang semestinya menjadi perhatian Warga Muhammadiyah yaitu untuk selalu menjaga keseimbangan antara pemurnian agama dan pembaharuan agama. Tajrid yaitu pemurnian dan tajdid yaitu pembaharuan harus seimbang saat ini mulai nampak ada gejala pemurnian dalam hal sosial kebudayaan yang merupakan ranahnya pembaharuan maka akan menjadikan Muhammadiyah menjadi konservatif, sementara dalam hal akidah mulai nampak pembaharuan yang termasuk dalam bahaya karena bisa mengarah pada liberal.

Muhammdiyah harus konsisten dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Dewasa ini banyak kasus kemunkaran yang meraja lela di negeri ini, kemunkaran yang terorganisir, ada lembaga yang secara sengaja mengorganisir kemunkaran-kemunkaran di tengah-tengah umat. Kemunkaran-kemunkaran ini adalah bagian dari rekayasa sosial yang disengaja.

“Dan saya haqqul yaqin- ada organize kemunkaran itu yang mengarah, diarahkan bertujuan untuk melemahkan Islam dan umat Islam di Indonesia. Ini yang kita saksikan, ini yang kita lihat, ini yang terjadi sekarang. Maka amar ma’ruf nahi munkar Muhammadiyah harus herlipat ganda nggak bisa seperti dulu harus lebih keras lagi, kalau dulu cukup dengan perkataan yang lembut-lembut sekarang tidak lagi, kita berlembut-lembut kita dihabisi,” terangnya.

Belum lagi problem kebangsaan seperti masih adanya ketimpangan  sosial ekonomi yang diterima umat Islam. Padahal umat Islam umat mayoritas yang sumbangsihnya untuk negeri ini sangat besar. Aset mayoritas ini hanya dikuasai oleh segelintir orang, dan ini bisa mengganggu keseimbangan nasional.

“Kalau ada kesenjangan seperti ini, Indonesia bisa goyah, ini yang kita hadapi sekarang, angka kesenjangan kita sudah hampir 0,4 ini yang tidak baik bagi Indonesia ini yang melanggar Pancasila,” ungkapnya.

Din  juga menyampaikan rasa keprihatinannya terhadap ujaran oknum tertentu yang mengatakan  “aku pancasila” seolah menuduh pihak lain sebagai anti Pancasila dan hal itu dituduhkan kepada kalangan Islam. Hal inilah yang menurutnya sebagai upaya untuk memanipulasi Pancasila, justru umat Islamlah yang menurutnya sebagai umat yang paling pancasilais. Belum lagi munculnya ujaran anti radikalisme, anti khilafah, anti yang berbau syariat.

“Ini kenyataannya sedih, sudah kita terpuruk dalam bidang ekonomi, dalam bidang apa-apa, tidak ada kebijakan-kebijakan yang berpihak sekarang menjadi tertuduh. Sedih saya. Begitu ada gejolak di Papua semua kalangan diam saja di mana pasukan yang mengatakan NKRI harga mati, mengapa tidak pergi ke Papua tapi begitu ada kalangan Islam dalam sejam sudah dituduh terkait teroris, ISIS dan sebagainya,” tutur Din Syamsudin.

Din juga menyampaikan jika pada bulan Mei lalu dirinya dan sejumlah tokoh diundang ke rumah Wakil Presiden, Jusuf Kalla. Pada kesempatan tersebut dibahas bagaimana langkah-langkah atau cara yang dapat ditempuh guna mengatasi problem-problem keumatan. Selanjutnya dia menjelaskan kepada Wapres Jusuf Kalla jika yang bisa mengatasi problem tersebut hanya ulama-ulama plus yakni ulama yang mempelajari antropologi, sosiologi, ilmu politik dan jika perlu hubungan internasional. []

Reporter: Kukuh Subekti