KISR Al-Badr Adakan Creative Sharing Gambar Itu Haram

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – KISR Al-Badr merupakan lembaga dakwah kampus (LDK) yang ada di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD UNS). Acara Creative Sharing Gambar itu Haram merupakan amanah dakwah dari KISR Al-Badr, LDK yang ada di lingkup mahasiswa seni dengan rutinitas sehari-hari tidak bisa lepas dari kegiatan menggambar tentu memiliki tantangan sendiri termasuk bagaimana hukum dalam gambar-menggambar.

Menurut Ketua KISR Al-Badr, Kholik Hasan Wahyudi tantangan dakwah setiap LDK itu berbeda-beda termasuk di FSRD UNS. Belum lagi KISR Al-Badr termasuk dalam LDK yang masih baru keberadaanya bersamaan dengan berdirinya fakultas FSRD UNS yang semula menjadi satu dengan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) atau Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) UNS. Meskipun dengan jumlah personil dakwah yang terbatas mereka tetap semangat mengelola kegiatan kajian-kajian tentu dengan kreativitas masing-masing.

“Anak-anak FSRD itu unik tentu dalam hal dakwah harus dengan cara yang unik mereka tidak suka sesuatu yang terlalu formal lebih suka sambil nongkrong,” ujar Kholil ketika menjelaskan tantangan dakwah di FSRD UNS.

Kegiatan creative sharing merupakan acara kajian yang dilakukan dengan cara talk show sehingga lebih santi dan jauh dari kesan formal. Sesi creative sharing kali ini adalah membahas tentang benarkah gambar itu haram bersama Bang Dzia seorang komikus dan penulis buku Gambar itu Haram. Bang Dzia memiliki nama lengkap Muhammad Zia Ulhaq, menurutnya gambar dalam bahasa Arabnya tashwir.

Istilah tashwir dalam bahasa Indonesia dimaknai sebagai gambar, meskipun istilah ini belum cukup mewakili makna sebenarnya. Tashwir bisa dimaknai dengan segala aktivitas menggambar, aktivitas berkarya,  seperti sketch,  modeling,  memotret,  dan lain-lain.  Pelaku atau senimannya  disebut sebagai musawir,  sedang hasil karyanya disebut surah Islam sendiri membagi tiga kelompok di dalam aktivitas menggambar ini pertama adalah jasadnya, kedua bentuknya dan yang ketiga adalah perlakuannya.

“Secara umum ulama berpendapat bahwa batu, tumbuhan, langit dan bumi tidak bernyawa sehingga tidak diharamkan. Jika ingin mencari aman maka berkarya lah pada hal hal itu saja yang disebutkan,” kata Bang Dzia.

Surah ada yang diciptakan oleh Allah SWT dan ada yang diciptakan oleh manusia atas izin-Nya. Sebagai contoh botol air mineral, botol air mineral plastik adalah surah yang diciptakan manusia dan tidak bernyawa. Sedangkan air adalah surah ciptaan Allah dan tidak bernyawa. Hakikatnya hampir seluruh makhluk yang ada di bumi itu bernyawa. Misal ketika kita membaca surat surat yang memberitakan tentang hari kiamat, di sana dijelaskan tentang bumi yang akan memuntahkan apa yang ada di dalamnya.

“Lalu bagaimana dengan perkembangan ilmu pengetahuan kedepannya? Ini membuat adanya bias disini, secara umum ulama berpendapat bahwa batu, tumbuhan, langit dan bumi tidak bernyawa sehingga tidak diharamkan,” jelasnya.

Amal ibadah setiap manusia itu tergantung niatnya, maka sangat penting menjaga niat termasuk ketika menggambar. Salah satu tantangan terbesar seorang seniman muslim yaitu belajar untuk tidak ujub ketika karyanya dipuji. Karena salah satu penyebab pengharaman adalah perasaan pembuatnya yang seolah olah dapat meniru ciptaan-Nya.

“Naudzubillah min dzalik. Kita harus memiliki kesadaran bahwa sehebat hebatnya tangan kita, otak kita, kemampuan kita hakikatnya semua itu hanyalah titipan”, ungkap bang Dzia.

Seorang seniman harus menyadari bahwa sehebat apapun dia dalam berkarya tetap sadar bahwa tangan kita, otak kita, kemampuan kita hakikatnya semua itu hanyalah titipan. Segala pemberian Allah merupakan media untuk beribadah kepada-Nya. Maka dari itu setiap seniman seyogyanya memberi batasan pada diri sendiri untuk meluruskan niat berkarya untuk jalan Allah, tidak ujub. Tentu saja tidak membuat karya yang melanggar syariat seperti mengekspos aurat yang membangkitkan syahwat. []

Reporter: Kukuh Subekti