Tragedi Kedung Kopi Solo di Mata Para Saksi

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – Peristiwa tragedi Kedung Kopi Solo juga dibenarkan oleh saksi sejarah lainnya yakni Ma’mun. Ma’mun pada saat peristiwa terjadi sedang menjalani pelatihan dari Organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) di Kota Solo. Ketika peristiwa terjadi pertrainingan terpaksa dihentikan, dia dan teman-teman pada waktu itu langsung merapat ke Balai Muhammadiyah Kota Surakarta.

“Pada waktu itu saya masih kelas dua di SMA Muhammadiyah 1 Surakarta, pada waktu itu saya sedang ada training center PII di Banyuanyar, setelah training dibubarkan saya kumpul dengan teman-teman  SMA di Kampung Baru, sambil mendengarkan radio yang mana pak Yani, pak Nasution hilang, setelah berapa hari pak Nasution dinyatakan selamat,” ungkap Ma’mun. Kamis (26/9).

Selain menjadi aktivis PII, Ma’mun juga menjadi aktivis Muhammadiyah di Kampung Sewu, pada saat peristiwa terjadi dia menjabat sebagain Ketua Ranting Pengurus Pemuda Muhammadiyah Kampung Sewu . Pada saat itu di Kampung Sewu sudah ada Gerakan Pemuda Marhaen (GPM), namun saat itu belum bersatu masih bergerak sendiri-sendiri di posko masing-masing. Saat peristiwa naas tanggal 22 Oktober di kawasan Gladag dia mendengar suara tembakan dari arah Beteng, segera dia berputar arah balik ke Balai Muhammadiyah mengumpulkan seluruh anggotanya dari Kampung Sewu.

“Karena Balai Muhammadiyah penuh saya membawa teman-teman mengungsi di rumah utara Balai Muhammadiyah, baru pada saat jam 12 malam saya dapat telepon dari Kampung Sewu kalau saya tidak usah pulang, Warga Kampung Sewu sudah kumpul jadi satu dan akan dihabisi, Kampung Sewu wis dikepung wong rong ewu irit-iritan yo enek,” jelas Ma’mun.

Penuturan tragedi Kedung Kopi yang lain disampaikan oleh Kyai Subari, yang pada saat peristiwa terjadi dirinya masih pelajar di PGA. Solo pada waktu itu mayoritas anggota DPRnya ialah anggota PKI, karena pada saat itu PKI secara nasional peringkat empat sementara di Solo peringkat satu, maka menurutnya adalah hal yang wajar jika saat itu walikotanya juga seorang PKI yakni Oetomo Ramelan. Oetomo Ramelan ialah seorang guru di salah satu SMA di Surakarta.

“Pada waktu itu meskipun masih bocah saya tahu ada peristiwa PKI dan apa yang dilakukan oleh kakak-kakak PII, HMI dan GPII,” papar Kyai Subari.

Menurutnya pada saat itu PKI sangat benci terhadap anak-anak PII, HMI dan GPII yang dinilai anak dari Partai Masyumi. Belum lagi situasi ekonomi saat itu sedang dalam kondisi terpuruk yakni pada tahun 1964 hingga 1965, pada waktu itu para pegawai gajinya hanya cukup untuk biaya hidup satu pekan. Olehkarenanya saat ity guru-guru di PGA hanya mengajar sampai pukul 11 siang sisanya bekerja di luar sekolah.

“Setahun itu inflasi 600% artinya harga barang yang pada Januari itu Rp 10,00, Desember menjadi Rp 60,00 saat itu rakyat makan nasi itu mewah sekali,” tutur Kyai Subari.

Pada saat itu terdapat undang-undang pokok agraria yang membatasi pemilikan lahan perseorangan. Untuk tanah maksimal 5 hektar sawah, pemilik harus tinggal di tempat pemilikan lahan selanjutnya keberadaan undang-undang pokok bagi hasil ini yang memicu bentrok antara pemuda-pemuda Islam di sawah-sawah yang menjadi wakaf contohnya milik Pondok Pesantren Gontor. Pada saat itu antara pemilik lahan dan yang mengelola lahan mendapat bagi hasil yang tidak seimbang di mana lebih banyak yang mengelola atau menggarap lahan. []

Reporter: Kukuh Subekti