Mengenang Sejarah Tragedi Kedung Kopi Solo

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – Mengenang peristiwa tragis dalam sejarah kehidupan umat Islam di Solo saat perlawanan PKI tahun 1965. Peristiwa tragis dan naas tersebut terjadi di Kedung Kopi, perbatasan Kampung Sewu dan Pucangsawit, Jebres, Surakarta.

Takmir Masjid Balai Muhammadiyah menggelar Kajian Gayeng Malam Jum’at atau biasa disingkat Kang Maljum setiap hari Kamis pekan terakhir setiap bulannya. Kajian pada Kamis (26/09) dalam rangka mendekati peristiwa kerusuhan tahun 1965 yang dilakukan oleh oknum PKI mengambil tema “Menilik Sejarah Tragedi Kedung Kopi Solo” dengan mengundang pelaku sejarah, saksi sejarah yakni Usman Amiruddin, Ma’mun, dan Ketua PDM Muhammadiyah Surakarta, Kyai Subari.

Usman Amiruddin seorang aktivis pemuda Islam tahun 1965 mengawali kajian dengan menjelaskan apa dan siapa itu PKI. Partai Komunis Indonesia merupakan partai yang berskala internasional yang waktu itu bisa dinyatakan berafiliasi dengan Partai Komunis Rusia maupun Partai Komunis Cina. Pada kesempatan tersebut Usman tidak menyebutkan tentang ideologi yang dimiliki oleh partai namun lebih spesifik kepada peran dan sepak terjang PKI di Indonesia.

“PKI di dalam perjuangannya, karena setiap partai politik itu tujuannya dua, satu untuk menguasai pemerintahan, yang kedua mempengaruhi kebijakan pemerintah contoh Partai Sosialis Indonesia dia tidak membutuhkan massa tapi lebih memementingkan intelektualitas bagaimana bisa menguasai kebijakan-kebijakan pemerintah, di luar PSI mereka lebih memilih merebut kekuasaan dan PKI di dalam merebut kekuasaan pendekatannya dengan kekerasan,” kata Usman dihadapan puluhan peserta Kang Maljum yang terdiri dari remaja, dewasa, orang-orang tua jamaah rutin Kang Maljum.

Madiun Affair atau Pemberontakan Madiun pada tahun 1948 merupakan serangkaian aksi perebutan kekuasaan secara sadis yang pernah terjadi di Indoneaia. Pada tahun tersebut ratusan tokoh-tokoh Islam, pimpinan pondok pesantren dan para santri dibunuh secara sadis, selain itu PKI juga memproklamirkan diri berdirinya negara soviet Indonesia. Pada masa itu PKI melakukan pembunuhan manusia secara sadis mulai digorok, diajar dan sebagainya.

“Jadi tolong panjenengan (kamu-Red) perhatikan dengan keadaan sekarang, jadi gerakan-gerakan PKI tadi itu merebut kekuasaan bahkan sudah berani memproklamirkan berdirinya Negara Soviet Indonesia di Madiun Tahun 1948, dan ini akan diulangi lagi pada waktu itu tahun 1965,” tutur Usman.

Usman menambahkan jika ada yang mengatakan bahwa kerusuhan 1965 itu dilakukan oleh Angkatan Darat (AD) itu keliru, menurutnya arsitek dibelakangnya ialah PKI. Meskipun pada peristiwa itu menggunakan tangan AD khususnya pasukan Tjakrabirawa yakni pasukan pengawal presiden.  Pada peristiwa tahun 1965 merupakan pengulangan pada peristiwa tahun 1948 di Madiun dengan menewaskan enam jenderal, dan satu perwira yang dibunuh secara sadis dengan ditembak serta dimasukan ke dalam sumur lubang buaya.

Walikota Solo, Oetomo Ramelan pada waktu itu juga seorang kader PKI sehingga Solo pada waktu itu mendukung keberadaan Dewan Revolusi yang diusulkan oleh pemerintah pusat, pemerintah waktu itu meminta dukungan dari seluruh kepala daerah di Indonesia, termasuk Walikota Solo. Mulai tanggal 1 Oktober sampai 22 Oktober 1965 kehidupan masyarakat Solo sangat mencekam khususnya jika tiba waktu malam hari.

Pada waktu itu para pemuda tidak ada yang berani tidur di rumah melainkan di posko-posko, masjid-masjid terutama di Balai Muhammadiyah. Karena setiap malam para pemuda muslim dan nasionalis diteror dan jika mereka sedang berkumpul di luar maka para anggota PKI akan mengatakan kepada mereka jika ini urusan AD.

“Saya disini koyo dolan (seperti bermain-Red), 55 tahun yang lalu tiap hari di sini, alhamdulillah pada 22 Oktober kami meminta RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat-Red) sekarang namanya KOPASUS, dan pada waktu itu selepas Jum’atan kami golongan nasionlis dan agamis demo menyambut kedatangan RPKAD,” terangnya.

Demonstrasi besar-besaran terjadi di Kota Solo, pada waktu itu Usman bergabung dengan teman-teman di Posko daerah Nonongan, selain terjadi peristiwa demonstrasi juga terjadi peristiwa bakar-bakaran terhadap toko-toko dan rumah para pendukung PKI. Saat menjelang sore hari di posko Usman dan teman-teman disusupi oleh oknum aparat yang mengatakan jika para demonstran diminta kumpul di Balaikota. Naasnya pada saat itu ketika massa belum sampai di balaikota, baru perjalanan menuju daerah Gladag segera dibrondong tembakan peluru dari sisi timur. []

Reporter: Kukuh Subekti