Menu Close

Masjid Cipto Mulyo Jejak Peninggalan Islam di Pengging

0Shares

BOYOLALI – Masjid Cipto Mulyo merupakan salah satu masjid tertua di Boyolali. Masjid yang dibangun oleh Raja Keraton Surakarta, Paku Buwono X itu memiliki sejumlah keunikan.

“Masjid ini didirikan pada hari Selasa Pon, 14 Jumadil akhir 1838 Je. Kalau Masehi sekitar tahun 1905. Kalau dihitung sampai sekarang kurang lebihnya sudah 114 tahun. Sudah satu abad lebih 14 tahun,” kata sesepuh masjid Cipto Mulyo, Achmadi, ditemui di beranda masjid, Rabu (8/5/2019). Dilansir detik.

Berlokasi di kompleks wisata religi Pengging, Kecamatan Banyudono, Boyolali. Di belakang masjid adalah kompleks makam salah satu pujangga Keraton Surakarta, Yosodipuro. Masjid ini juga termasuk masjid bersejarah dan merupakan jejak peninggalan dalam penyebaran Islam khususnya di wilayah Pengging.

“Masjid ini didirikan oleh Paku Buwono X,” jelas Achmadi.

Ada sejumlah keunikan dari masjid ini. Selain dibangun oleh Raja, kemudian nama, bentuk bangunannya dan yang paling unik yakni arah kiblatnya. Masjid itu sekilas sudah mengarah ke arah barat. Biasanya arah kiblat serong ke kanan. Namun di masjid Cipto Mulyo ini yakni serong ke kiri.

“Arah kiblat (masjid) ini, wa ktu saya masih kecil sudah demikian ini. Sudah miring ke kiri,” imbuh Achmadi yang kini telah berusia 77 tahun.

Kementerian Agama Kantor Wilayah Jawa Tengah, memasang gambar yang menunjukkan arah kiblat sudah sejak lama. Arah kiblat yang terbuat dari kuningan atau tembaga itu di pasang di lantai serambi masjid bagian depan.

Selain arah kiblat, bentuk bangunan masjid ini juga tergolong berbeda dari masjid kebanyakan. Masjid Cipto Mulyo menampilkan desain Jawa kuno. Ornamen-ornamen ukiran terpasang di ventilasi pintu.

Nama masjid juga menggunakan bahasa Jawa, yakni Cipto Mulyo. Ini berbeda dengan mayoritas masjid di Indonesia yang menggunakan bahasa Arab.

“Yang memberikan nama (masjid) kan Ratu (Raja). Cipto mulyo itu diciptakan agar supaya mulyo, hidup kita agar supaya mulyo, hidup sejahtera lahir dan batin di dunia dan akhirat, mungkin seperti itu,” terangnya.

Sejak dibangun ratusan tahun lalu, masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi. Namun bentuk masjid masih asli seperti saat awal dibangun. Bahkan, konstruksi kayu dan bangunan juga belum berubah.

Tiang dan usuk dari kayu jati masih yang aslinya. Dindingnya pun masih aslinya, hanya saja saat ini sebagian telah dilapisi dengan marmer.

Sejumlah benda lain yang masih asli sejak zaman dulu, seperti bedug dan kentongan. Bahkan, bedug berukuran besar itu dibuat dari kayu utuh. Di kentongan itu juga terdapat tulisan PB X.

Di serambi depan, tepatnya di atas tangga masuk, juga masih terpasang prasasti dari kayu dengan tulisan huruf Jawa yang menjelaskan tentang waktu didirikannya masjid Cipto Mulyo. Kemudian kubah masjid yang memiliki arah angin juga masih dipertahankan.

Masjid Cipto Mulyo selalu ramai dikunjungi jamaah. Terlebih saat bulan Ramadan ini, berbagai kegiatan digelar oleh pengurus masjid.

“Kegiatan harian, setiap hari Senin, Rabu dan Jumat, bakda Ashar itu TPA. Juga ada pengajian rutin,” tandas Achmadi. []