Krisis Literasi Saat Ini Mendera Sebagian Besar Aktivis Islam

0Shares

SUKOHARJO, (Pancaran.net) – Budaya menulis dan membaca saat ini kurang diminati bagi kalangan aktivis khususnya para mahasiswa. Akibatnya banyak beredar informasi ataupun berita yang jauh dari nilai-nilai Islam. Hal ini diperparah dengan belum adanya dukungan terharap media Islam.

Akibatnya saat ini siapa yang mampu menguasai media merekalah yang benar, meski sekali lagi hal itu tidak sesuai dengan prinsip Islam.

Bahasan itulah yang menjadi tema pada workshop trining jurnalistik, “Optimalisasi Jurnalistik & Publikasi Kunci Sukses Dalam Dakwah yang diikuti oleh mahasantri Akademi Dahwah Indonesia dan Mahal Aly Muhammad Natsir di Islamic Center Gedung Dewan Dakwah Jawa Tengah di Gonilan Kartasura. Ahad (22/9). Hadir sebagai pemateri pada kesempatan itu Ranu Muda, Pimpinan Redaksi Pancaran.net.

Ranu juga menambahkan bahwa dulu di masa kemerdekaan media Islam tumbuh dan mampu mempengaruhi penguasa saat itu. Ini berbanding berbanding terbalik dengan kondisi saat ini.

“Sekarang media Islam menjadi media pinggiran, kalah dengan media umum yang dimiliki sebagian besar oleh orang-orang non muslim. Ini sangat menyedihkan padahal mayoritas penduduk di negeri ini adalah Muslim,” ujarnya.

Terkait hal itu mulai saat ini semua komponen umat Islam harus mencintai literasi. Para mahasiswa harus gemar membaca dan menulis. Jika semua itu bisa dilakukan setidaknya bisa memberikan kontribusi saat Islam tersudutkan. Dengan cara mengirimkan tulisan ke berbagai media yang ada.

Musuh Islam saat ini begitu getol memanfaatkan media sebagai sarana untuk memperburuk citra negatif terhadap Islam dan susahnya sampai sekarang umat Islam tidak memiliki media sendiri yang mempu memberikan informasi yang berimbang.

Pada kesempatan itulah Ranu Muda juga mengajak seluruh aktivis Islam, ulama, pengusaha muslim agar peduli dengan keberadaan media Islam.

“Saatnya kembali ke media Islam. Bantu dengan kekuatan yang ada bisa melalui sering membaca, membantu pendanaan dan lain sebagainya,” tambahnya.

Sekarang ini memang beberapa media Islam online tumbuh namun tidak didukung dengan SDM yang memadai akibatnya tidak bisa mempengaruhi kebijakan dan opini publik.

Sementara itu, Mudir Akademi Dakwah Indonesia, Ustadz Fahrurazi Naim meyebutkan bahwa sebagai seorang dai diperlukan kemampuan untuk menulis. Karena jika ceramah hanya mampu disaksikan oleh beberapa orang namun jika materi itu mampu ditulis dan dimuat baik di media atau di buku maka bisa dibaca oleh ratusan bahkan jutaan orang.

Selain diberi pelatihan tentang kepenulisan para peserta juga diberi tugas praktek tentang jurnalistik. []