Kader IMM Perlu Memahami Jatidiri Muhammadiyah dalam ber-IMM

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Surakarta mengadakan acara Studium General, pada Ahad (22/9) dengan mengambil tema “Reformulasi Alternatif Gerakan Intelektual di Era Post-Modern”. Hadir pada kesempatan tersebut Ketua Umum DPP IMM, Najih Prastiyo dan Direktur Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial ( PSBPS) UMS, Azaki Khoirudin keduanya membahas sejauh mana kader-kader Muhammadiyah khususnya IMM memahami diri mereka sebagai kader Muhammadiyah.

Pada kesempatan tersebut Najih selaku Ketum DPP IMM mengemukakan kepada 562 pengurus baru di lingkup IMM Surakarta tentang kegagalan seorang kader Muhammadiyah dalam mengartikan ideologi Muhammadiyah dan dampaknya dalam kehidupan berorganisasi. Hal ini pula yang menurutnya membuat arah berpikir kader-kader Muhammadiyah menjadi rancu. Dia menekankan pentingnya memahami prinsip dasar ber-Muhammadiyah dan ber-IMM.

“Secara historis mungkin kita bisa melihat bahwa Kyai Ahmad Dahlan dalam mendirikan Muhammadiyah tidak dengan mempertentangkan dengan budaya lokal dan dalam konteks post modernisme seperti yang terjadi hari ini Kyai Ahmad Dahlan sudah melaksanakan itu pada saat mendirikan Muhammadiyah tahun 1912 tidak pernah mempertentangkan tahlilan haram,” kata Najih.

Lebih lanjut Najih  mengungkapkan jika dirinya tidak sepakat dengan apa yang menjadi kata kunci dalam acara studium general sebagai mana yang disampaikan oleh panitia dalam tema besarnya. Menurutnya sangat tidak perlu mencari kembali jatidiri Muhammadiyah, karena secara prinsip sudah ada dan dilaksanakan oleh Kyai Ahmad Dahlan, yang perlu dilakukan hanya merumuskan kembali nilai-nilai, prinsip Muhammadiyah dalam kehidupan hari ini. Karena tidak jarang di era post modernisme saat ini kader-kader Muhammadiyah jauh lebih menjadikan orang-orang, tokoh-tokoh di luar Muhammadiyah sebagai panutan dan contoh dalam kehidupan bermasyarakat, dan beragama daripada tokoh-tokoh yang lahir dari kalangan Muhammadiyah.

Zaki Khoirudin menyoroti tentang bagaimana seorang kader Muhammadiyah itu dalam ber-Islam. Muhammadiyah merupakan gerakan amal, yang didasari oleh welas asih atau cinta kasih sebagai mana yang diajarkan oleh Kyai Ahmad Dahlan. Puncak dari keberagamaan seseorang adalah akhlaknya, sebagaimana Rasulullah diutus kepada manusia selain membawa misi ke-Islaman, ke-imanan dan puncaknya adalah menjadikan manusia sebagai orang yang ihsan.

“Mengapa orang Muhammadiyah secara simbolik ora (tidak-Red) soleh karena tidak dzikir di masjid tapi dzikirnya orang Muhammadiyah itu berbentuk amal usaha,” kata Zaki.

Hal-hal yang mendasari sikap beramal orang-orang Muhammadiyah ialah pemahaman prinsip bertauhid. Setiap orang yang bertauhid akan membebaskan dirinya dari hawa nafsunya, dan sikap hidupnya pun menjadi egaliter terhadap sesama manusia. Orang yang tauhidnya murni sebagai mana yang pernah dicontohkan oleh Kyai Ahmad Dahlan akan tumbuh menjadi sosok pluralis, karena semakin murni tauhidnya kita bisa semakin menghargai orang lain bukan eksklusif.

Di era post-modern ini kita semakin tidak mudah baper dalam melihat perbedaan terutama antar sesama kader Muhammadiyah, tetap berada pada prinsip dasar pemikiran-pemikiran Muhammadiyah,” papar Zaki. []

Reporter: Kukuh Subekti