Jam Matahari Masjid Agung Solo Saksi Bisu Kejayaan Islam Era Pakubuwono VIII

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – Jam matahari atau jam istiwak yang terletak di kompleks halaman (depan ruang takmir-Red) Masjid Agung Solo ini ialah saksi kejayaan Islam di era Keraton Kasunanan Surakarta. Jam yang operasionalnya bergantung pada sinar matahari merupakan jam peninggalan raja Pakubuwono VIII (1858 – 1861).

Abdul Basid Rohmat yang merupakan pengurus takmir Masjid Agung Solo menjelaskan tentang keberadaan jam matahari atau jam bencet kepada redaksi Pancaran, Sabtu (21/09). Menurutnya keberadaan jam tersebut bersamaan dengan adanya pendirian sekolah Mamba’ul Ulum pada masa pemerintahan Pakubuwono VIII. Selain mendirikan sekolah bagi para calon ulama keraton, PB VIII melengkapi keberadaan masjid dengan pembuatan jam matahari tersebut.

“Mamba’ul Ulum itu tempat untuk mencetak para ulama-ulama, da’i-da’i keraton jadi dulu ada daerah-daerah yang diwilayahi oleh penghulu, jadi sama keraton dibuatkan masjid seperti di Laweyan, Kepatihan selain dibuatkan masjid tidak menutup kemungkinan  juga dibuatkan jam matahari sebagi penentu waktu shalat” terangnya ketika ditanya terkait keberadaan jam matahari di masjid Jami Laweyan.

Selain membuatkan jam matahari sebagai penanda waktu untuk shalat, keraton juga memberikan seperangkat bedug dan kentongan sebagai penanda panggilan kepada jamaah untuk segera datang ke masjid melaksanakan ibadah shalat. Baru setelah alat soundsystem mulai banyak digunakan keberadaan bedug dan kentongan hanya ditabuh ketika menjelang adzan shalat.

“Kalau di masjid-masjid keraton biasanya ada bedug, saat ini keberadaannya di Masjid Agung digunakan sebagai penerus tradisi saja, biasanya waktu shalat Jumat sebelum adzan atau menjelang dzuhur misalnya dibunyikan walau hanya beberapa menit” imbuh Basid.

Semua peninggalan PB VIII (jam matahari dan bedug-Red) hingga saat ini masih berfungsi yang keberadaanya perlu untuk dilestarikan. Kelestarian benda-benda peninggalan PB VIII ini bisa menjadi saksi bagaimana Islam berkembang di Kota Solo. Basid juga menyarankan agar generasi-generasi muda bersedia mempelajari penggunaan jam matahari.

“Karena ini penanda waktu shalat siapa tahu ini berguna pada waktu kita berada di tengah hutan atau di mana saja yang kita tidak punya jam, kita menentukan waktu-waktu shalat dengan cahaya matahari,” paparnya.

Adapun bentuk  jam matahari ialah setengah lingkaran cekung yang terbuat dari pelat tembaga yang ditekuk. Di dalam tekukan tembaga tersebut terdapat guratan angka-angka penunjuk jam yang terdiri dari angka 1-12. Dengan komposisi angka 1-6 di cekungan sisi timur dan angka 7-12 di sisi barat cekungan. Saat sinar matahari jatuh pada permukaan jam, maka bayangan jarum akan menunjuk angka yang terdapat pada guratan tembaga.[]

 

Reporter: Kukuh Subekti