Hijrah Itu Memang Indah

0Shares

(Pancaran.net) – Laki-laki itu bergegas menepikan mobilnya. Sejenak kemudian dihempaskan kepalanya hingga bersandar pada kursi mobil belakangnya, sambil menyeka rambut dengan kedua tangannya sampai ke belakang, sejurus kemudian dia tertunduk dengan kedua tangan masih memegang kepala hingga ke tengkuk lehernya. Ia masih ragu, apakah keputusan meninggalkan pekerjaan yang telah digelutinya selama 12 tahun di sebuah lembaga keuangan ini adalah keputusan yang tepat.

Pagi itu, sebelum sampai di rumahnya, sengaja ia menyegerakan dirinya menghampiri masjid. Entah berapa lamanya dia tidak lagi mengunjungi masjid itu. Ada rasa haru dan berdesir ketika ia mulai melangkahkan kakinya menuju masjid seberang jalan rumahnya yang sudah sekian lama tidak ia kunjunginya itu. Selama ini ia merasa capai dan sibuk dengan urusan kehidupannya. Pagi-pagi ia sudah harus bangun dan segera bergegas untuk ke kantor yang membutuhkan waktu sekitar 1 jam dari rumahnya, apalagi jika jalanan sudah mulai macet dan ramai, bisa lebih dari 1.5 jam untuk bisa sampai ke kantornya. Itupun ia harus mampir dulu mengantar di sekolah dimana tempat anaknya mengenyam pendidikan di SD yang sudah berjalan selama 5 tahun. Pulang dari kantor hari sudah mulai malam, sehingga terkadang karena kelelahan, waktu subuhpun terlewat. Hari-hari itu dijalani dengan setelah sekian tahun lamanya. Dan pagi ini, terasa ada kerinduan yang begitu dalam disertai perasaan ketenangan yang begitu luar biasa, sesaat setelah ia mengambil air wudhu dan bersimpuh dengan mengerjakan sholat dhuha di masjid yang telah lama tak dikunjunginya.

Ia pun semakin mantap, untuk lebih mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Sungguh tiada yang lebih bisa membuat rasa ketenangan dan kebahagiaan kecuali berserah diri kepada sang penguasa langit dan bumi, Allah SWT, azza wa jalla. Betapapun sebagai seorang yang belum begitu lama berumah tangga, ia sudah diberikan limpahan rejeki yang lebih dari cukup. Sebuah rumah mewah dengan pekarangan yang asri, mobil, istri yang cantik dan seorang anak yang mulai menginjak usia 10 tahun. Tidak ada yang kurang dalam kehidupannya jika dilihat dari ukuran materi. Namun setelah sekian lama, ia merasakan ada sesuatu yang hilang.

Ruh itu akan bersatu dengan jiwa-jiwa yang memiliki satu tujuan. Dan siang itu Ia seolah menemukan jiwanya yang selama ini terbang entah kemana. Ia merasa seperti terlahir kembali. Jiwanya kini lebih hidup dengan Ma’rifah, hatinya lebih tenang dengan limpahan mahabbah, dan izzahnya semakin menyala-nyala dengan janji untuk menjadi bagian dalam menjaga ketaatan dan syari’at Allah SWT.

Hijrah berasal dari bahasa Arab yang artinya berpindah atau meninggalkan tempat. Menurut sejarahnya sendiri, hijrah sudah dilakukan terlebih dahulu oleh Nabi Muhammad SAW bersama sahabatnya dari Mekkah ke Madinah untuk mempertahankan dan menegakkan akidah dan syari’at Islam.

Di Jaman sekarang, makna hijrah dapat diartikan sebagai meninggalkan sesuatu yang buruk demi menuju sesuatu yang lebih baik. Misalnya yang semula bekerja dengan sistem yang tidak syar’i, berpindah kepada sistem yang  Islami/Syar’i, berpindah dari yang belum menggunakan jilbab menjadi menggunakan jilbab. Yang sebelumnya senang bergosip menjadi menahan diri untuk tidak bergosip dan seterusnya. Hijrah adalah komitmen keimanan, keikhlasan, ketundukan. Coba kita perhatikan nukilan hadits berikut ini:

“Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499; Ibnu Majah, no. 4251; Ahmad, 3: 198. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Adakah manusia di dunia yang tidak pernah berbuat salah atau tidak punya dosa? Jawabannya adalah tidak ada, setiap manusia, siapapun dia, pasti punya salah dan dosa, Allah sendiri dalam hadits yang lain bahkan menyanjung kepada umat manusia yang meskipun berbuat salah, tetapi kemudian menyadari dan mau memohon ampun dan taubat kepada Allah SWT. Makna taubat sendiri, berasal dari kata:

الرُّجُوْعُ مِنَ الذَّنْبِ.

Kembali dari kesalahan dan dosa menuju kepada ketaatan.  

Secara bahasa artinya bahwa:

تَابَ إِلَى اللهِ يَتُوْبُ تَوْباً وَتَوْبَةً وَمَتَاباً بِمَعْنَى أَنَابَ وَرَجَعَ عَنِ المَعْصِيَةِ إِلَى الطَّاعَةِ

Orang yang bertaubat kepada Allah ialah, orang yang kembali dari perbuatan maksiat menuju perbuatan taat. 

التَّوْبَةُ :َاْلإِعْتِرَافُ وَالنَّدَمُ وَاْلإِقْلاَعُ وَالْعَزْمُ عَلَى أَلاَّ يُعَاوِدَ اْلإِنْسَانُ مَا اقْتَرَفَهُ.

Seseorang dikatakan bertaubat, kalau ia mengakui dosa-dosanya, menyesal, berhenti dan berusaha untuk tidak mengulangi perbuatan itu

Jadi tidak boleh berputus asa terhadap rahmat Allah, apabila kita merasa pernah berbuat salah dan dosa kepada Allah. Allah SWT melarang kita untuk berputus asa dari Rahmat Allah SWT.

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53).

Setelah berhijrah, bukan tidak mungkin ujian akan semakin ringan, bahkan bisa jadi ujian akan semakian berat. Karena pada hakekatnya Allah ingin melihat kesungguhan dan keikhlasan kita. Kita tidak boleh mengeluh apalagi berputus asa, jika setelah bertaubat namun kita masih belum mendapati apa yang kita inginkan, justru disaat itulah ujian keikhlasan. Apakah hijrah dan taubat kita benar-benar lillah, atau karena materi dan selain lillah. Yakinlah bahwa Allah pasti akan tetap menjaga dan menambah petunjuk kepada orang-orang yang sudah berhijrah dan bertaubat.

Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (QS. Maryam: 76)

Terkadang kita merasa setelah berhijrah, kita tidak menemukan teman dan sahabat. Ketahuilah seseorang itu akan berkumpul dengan yang sesuai dengan dirinya. Ketika sudah memutuskan berhijrah maka Allah akan mempertemukan kita dengan sahabat-sahabat yang terbaik fillah.

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101, dari Abu Musa)

Mungkin diawal-awalnya kita merasa seolah terasing, lemah dan tak berdaya, namun yakinlah bahwa Allah akan menguatkan kita sobat. Allah akan menjadikan kita menjadi lebih kuat dari sebelumnya.

“Barangsiapa mengutamakan kecintaan Allah atas kecintaan manusia maka Allah akan melindunginya dari beban gangguan manusia.”  (HR. Ad-Dailami)

Bisa jadi kamu akan kehilangan sesuatu, namun kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih berharga dari apapun di dunia ini. Perhatikan bagaimana Allah SWT memberikan kabar gembira kepada kita, apabila kita beriman dan bersabar dalam ketaatan kepada Nya.

 “Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang orang yang paling tinggi derajatnya jika kamu beriman” (QS Al Imran : 139) 

Hijrah adalah jalan kebahagiaan dan ketenangan, karena kamu akan menemukan sebuah hakikat hidup ini.

Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada Nya aku bertawakal” (QS At Taubah : 129)

Layaknya sebuah perjalanan menuju tempat yang indah, jalannya selalu terjal dan tak mudah. Namun pada akhirnya kamu akan mendapatkan sebuah kebahagiaan yang tak bisa diungkap dengan kata-kata. Begitu pula dengan hijrah. Insya Allah. []

 

Penulis, Dr Budi Harjo

Praktisi Pendidikan