Trik Iblis dan Para Penerusnya Dalam Ghazwul Fikri

0Shares

JAKARTA, (Pancaran.net) – Rabu (4/9) malam lalu, perkuliahan SPI (Sekolah Pemikiran Islam) Jakarta Angkatan ke-10 kembali dilaksanakan di Gedung INSISTS, Kalibata. Sebelum materi dimulai, dilakukan diskusi pemantik terkait ghazwul fikri (perang pemikiran) yang diarahkan oleh Chandra Yudhangkara, Kepala Sekolah SPI Jakarta. Tema diskusi tersebut sesuai dengan materi pertemuan kedua yang diampu oleh Akmal Sjafril selaku pendiri SPI.

“Hakikat dari ghazwul fikri adalah perang, yaitu konfrontasi terencana yang bertujuan penaklukan dengan memanfaatkan segala sumber daya yang dimiliki. Penaklukan yang dimaksud di sini adalah menaklukkan muslim secara total, terutama pemikirannya. Karena pikiran manusialah yang mengendalikan tubuh dan seluruh potensinya, sehingga ghazwul fikri ini dilakukan agar kita dapat dikendalikan sesuai yang diinginkan oleh musuh-musuh Islam,” ucap Akmal saat membuka perkuliahan.

Menurut pria yang lahir di Jakarta ini, indikasi akan terjadinya ghazwul fikri sudah terlihat saat Iblis bersumpah kepada Allah untuk menyesatkan keturunan Adam AS. Kisah kepongahan Iblis tersebut dinyatakan dalam Surat Al-A’raaf dan Al-Hijr. Di dalamnya dijelaskan bahwa Iblis sudah berkali-kali diperingatkan Allah terkait penolakannya untuk bersujud pada Nabi Adam as. “Alih-alih memohon ampun, Iblis justru meminta penangguhan azab baginya dan bersumpah akan membuat manusia menjadi pengikutnya dan meninggalkan Allah SWT,” ujarnya.

Pria bungsu dari tiga bersaudara ini juga menjelaskan bahwa ghazwul fikri paling sering terjadi melalui tiga modus, antara lain media massa yang bisa membentuk opini publik meskipun itu tidak benar. “Goebbels, Menteri Propaganda NAZI, konon mengatakan bahwa jika kebohongan itu diulang-ulang, maka orang akan mempercayainya,” jelas Akmal.

Modus kedua adalah pendidikan, termasuk lembaganya. Dalam hal ini, para petinggi lembaga pendidikan itu sendiri yang sering menjadi pelaku utamanya. Akmal menyitir disertasi tentang konsep Milk Al-Yamin karya Abdul Aziz, mahasiswa S3 UIN Sunan Kalijaga Jogja. Menurut Akmal, disertasi yang memuat konsep menyesatkan terkait dibolehkannya seks di luar nikah selama sesuai syariat tersebut tidak mungkin bisa sampai tahap sidang terbuka kalau bukan karena para dosen yang sudah menyetujuinya.

Setelah itu, Akmal menjelaskan modus terakhir, yaitu melalui hiburan. Modus hiburan merupakan bentuk yang efektif, karena mudah sekali untuk masuk ke dalam pikiran seseorang.

“Seseorang itu menonton film dengan niat untuk mendapatkan hiburan, bukan untuk berpikir kritis. Jadi serangan pemikiran masuk lewat cara ini dengan cara halus sekali. Contohnya sinetron yang menampilkan citra seseorang dengan atribut keislaman namun perilakunya justru jauh sekali dengan ajaran Islam itu sendiri, seperti tokoh Haji Muhidin (dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji -red). Hal inilah yang menjadikan umat bisa salah kaprah terhadap ajaran Islam,” ujar Akmal.

Akmal juga mencontohkan bahwa saat ini tidak sedikit yang berpandangan bahwa akhlak dan jilbab itu seolah tak berhubungan. “Ada perempuan tidak pakai jilbab tapi disebut shalihah karena ia baik, sopan, dan lain-lain. Padahal kalau perempuan itu shalihah, ia pasti pakai jilbab,” ujarnya lagi sambil tertawa ringan.

Ghazwul fikri, menurut Akmal, hanya bisa dimenangkan dengan satu cara. “Muslim harus punya ilmu untuk memenangkan ghazwul fikri. Itulah alasan kita hadir di SPI,” pungkasnya menutup materi kuliah malam itu. []