Masjid Minim Fasilitas Difabel, Fiqih Disabilitas Terus Disuarakan

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – Komitmen Kementerian Agama dalam melaksanakan fiqih disabilitas harus dikawal agar berlanjut sampai kota/kabupaten di Indonesia. Karena sampai sekarang masjid-masjid masih banyak yang belum dilengkapi fasilitas aksesibilitas bagi kaum difabel.

Dilansir krjogja, Bahrul Fuad, Ahli Disabilitas Program Peduli The Asian Foundation mengatakan selama ini fiqih kita masih kurang akomodatif terhadap persoalan disabilitas. Ini bisa dilihat adanya larangan kursi roda masuk masjid. Kursi roda dianggap najis, sehingga harus ditinggal di luar.

“Jadi saya harus merangkak ke dalam masjid. Padahal tìdak semua penyandang disabilitas bisa turun dari kursi rodanya. Karena kursi roda  bagian dari tubuh kita,” kata Bahrul Fuad di sela semiloka “Tiga tahun perjalanan program peduli memperluas replikasi praktek baik pembangunan desa inklusif disabilitas” di Hotel Harris Convention, Selasa (10/9).

Menghadapi persoalan di atas The Asian Foundation bersama Pusat Studi Layanan Disabitas Unbraw Malang melakukan penelitian di Jawa Tinur. Hasil temuan banyak tantangan bagi kaum disabilitas termasuk aksesibilitas masjid, disamping larangan kursi roda masuk masjid. Dari penelitian ini terbitlah fiqih disabilitas.

Sementara Natalia Warat, Deputy Team Leader Program Peduli The Asia Foundation menambahkan fiqih disabilitas telah diterapkan di masjid Istiqlal Jakarta. Pada sholat Idul Adha lalu kaum difabel sudah bisa sholat di shaf depan dan ada juru bahasa isyarat buat teman-teman tuli.

Berikutnya tinggal menindaklanjuti agar Kemenag mendorong daerah untuk merenovasi masjid yang ramah disabilitas. Bahrul Fuad juga akan mendekati PP Muhammadiyah yang banyak memiliki fasilitas pendidikan dan kesehstan. Dalam proses penyusunan fiqih disabilitas ia telah merangkul PB NU. []