Bulan Muharram: Bulan Syahrullah dan Hikmah di Dalamnya

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – Bulan Muharram merupakan bulan yang istimewa karena bulan itu ialah bulan Syahrullah atau bulannya Allah. Bulan Muharram termasuk dalam empat bulan yang suci atau Arba’atun hurum.

Keistimewaan bulan Muharram dalam kategori empat bulannya Allah yang suci juga disebutkan langsung oleh Allah dalam firman-Nya sebagaimana tercantum pada QS At-Taubah ayat 36 : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

“Empat bulan tersebut disebutkan dalam Al-Qur’an dan diperjelas lagi di dalam Hadist Rasulullah”, Kata Ustadz Hatta Syamsuddin dalam ceramahnya pada kajian rutin hari Senin di Masjid Nurul Huda, UNS Senin (9/9).

Adapun empat bulan yang termasuk dalam kelompok Arba’atun hurum adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Pada bulan- bulan tersebut umat Islam diharapkan mampu menjaga diri dari kemaksiatan, dan dosa serta meningkatkan kualitas ibadah. Karena setiap amal akan dilipatgandakan timbangan dosa dan pahalanya.

Lebih lanjut Ustadz Hatta menyebutkan keistimewaan bulan Muharram ada empat yang pertama bahwa bulan Muharram  merupakan satu dari empat  bulan harram, kedua Muharram sebagai bulan syahrullah bulannya Allah, ketiga Muharram sebagai bulan pertama dari penanggalan hijriyah, yang keempat bulan yang di dalamnya ada banyak peristiwa penting dalam sejarah.

“Terdapat perang Fijar yakni perang yang penuh pertentangan karena menembus batas bulan harram jadi peperangan ini yang dikatakan menentang kesepakatan yang selama ini ada di kalangan kabillah- kabillah Arab”, jelas Ustadz Hatta.

Ustadz Hatta menjelaskan jika di kalangan Bangsa Arab sudah ada kesepakatan umum bahwa pada bulan Muharram tidak ada peperangan. Potensi perang diantara kabillah Arab sangat besar sehingga perlu dibuat kesepakatan bersama bahwa ada satu waktu yang mereka tidak boleh mengadakan peperangan. Ditambah pada masa jahiliyah masih ada sisa- sisa umat Nabi Ibrahim yang mengamalkan ibadah haji pada bulan Muharram.

Sementara berkaitan dengan ibadah puasa di bulan Muharram merupakan ibadah puasa yang kedudukannya paling utama setelah puasa Ramadhan. Selanjutnya berkaitan dengan puasa Asyura adalah kisah Rasulullah Muhammad yang baru tiba di kota Madinah dan menjumpai kaum Yahudi melaksanakan ibadah puasa pada tanggal 10 Muharram. Rasulullah pun bertanya pada kaum Yahudi tersebut, dan mereka menjawab jika pada hari itu Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari fir’aun dan bala tentaranya lantas Nabi Musa pun berpuasa.

“Mendengar hal tersebut Rasulullah berkata kalau begitu aku lebih berhak kepada Musa daripada  kalian,” tuturnya.

Sejak saat itu Rasulullah pun berpuasa adapun hikmahnya adalah puasa tersebut dapat menghapus dosa-dosa setahun lalu. Adapun yang dimaksud dengan menghapus dosa- dosa menurut Ibnu Taimiyah adalah dosa- dosa kecil. Adapun dosa- dosa besar harus disertai dengan adanya taubatan nasuha.

Lebih lanjut Ustadz Hatta menambahkan agar dosa-dosa kecil jangan sampai diremehkan. Perlu dilakukan pembersihan melalui puasa- puasa yang kita lakukan (Puasa Arafah, Puasa Muharram, Puasa Asyura-Red). Namun jangan sampai menjadikan puasa tersebut sebagai acuan kita dalam beramal sehingga meremehkan dosa- dosa kecil cukup untuk dijadikan semangat motivasi kita untuk senantiasa beramal saleh.

“Adapun Tasu’a merupakan salah satu puasa yang diinginkan oleh Rasulullah atas sikap protes para sahabat yang mengatakan bahwa ini adalah hari raya Yahudi hari yang diagung- agungkan oleh mereka”, imbuhnya.

Untuk menyelisihi puasa yang dilakukan oleh bangsa Yahudi maka  Rasulullah menganjurkan adanya puasa Tasu’a yang dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram.  Para ulama membagi tiga tingkatan puasa Asyura, pertama yaity pada tanggal 9,10 dan 11, kedua adalah puasa dua hari yakni puasa 9, 10 atau 10, 11, yang ketiga yaitu puasa 10 Muharram saja. []

 

Reporter: Kukuh Subekti