Tujuan, Bukan pada Caranya

0Shares

(Pancaran.net)“To keep your marriage brimming with love in the loving cup, whenever you’re wrong admit it; whenever you’re right shut up” (Ogden Nash). Untuk menjaga pernikahan kita agar tetap penuh dengan cinta: jika salah, mengakulah, jika (meskipun) benar, diamlah! Kalimat bijak yang terdengar ‘aneh’ ini memang benar adanya. Terkadang, komunikasi dalam pernikahan harus berkompromi dengan hal-hal ‘unik’ dan ‘tidak biasa’ yang dimiliki pasangan kita, sehingga membutuhkan seni tersendiri dalam membangun gaya berkomunikasi.

Enright dan Coyle (1998), menyatakan bahwa, “the need for forgiveness arises from some type of event that causes injury.” Kebutuhan untuk memaafkan timbul dari beberapa macam peristiwa yang menyebabkan luka. Peristiwa-peristiwa yang melibatkan kedua belah pihak. Apalagi dalam keluarga, kesalahan tidak hanya selalu dilakukan oleh satu pihak, tapi pihak yang lain juga bisa melakukan kesalahan yang sama pula.

Sering terjadi, peristiwa yang menimbulkan luka itu datang dari hal-hal yang tidak disengaja. Tahukah, bahwa pemicu dari pertengkaran-pertengkaran besar sebenarnya berasal dari hal-hal yang sepele. Hal-hal yang sebenarnya tidak perlu diributkan namun bisa menyulut konflik berkepanjangan. Sadarkah, bahwa hal-hal sepele itu sering disebabkan karena komunikasi kita yang buruk terhadap pasangan? Karena kita tidak memiliki kemampuan yang baik dalam menyampaikan isi hati, pikiran, ide, perasaan dan juga sebaliknya, kita tidak memiliki kemampuan yang baik untuk mendengarkan keinginan pasangan.

Terkadang, sebuah masalah itu hanya menjadi masalah di saat kita merasa letih, penat dan jengkel. Namun, menjadi hal yang biasa-biasa saja jika kita dalam kondisi yang biasa-biasa saja. Dan terkadang, tidak mengungkapkannya adalah hal yang tepat, karena menjadi masalah justru jika kita menyampaikannya. Sebagaimana yang sering kita dengar, “Some problems need to be discussed, but sometimes, some problems don’t need to be discussed.”  Maka, mengetahui apakah yang akan kita sampaikan benar-benar perlu diutarakan, kapan waktu yang tepat dan dalam kondisi seperti apakah yang paling pas untuk membicarakan, adalah hal yang perlu kita perhatikan sebelum menyampaikan sesuatu. Sadar akan apa yang perlu disampaikan lebih baik daripada ingin mengatakan apa yang harus disampaikan.

Paul Watzlick, seorang terapis keluarga, menyatakan bahwa bagian terbesar dari komunikasi adalah mengetahui apa yang harus dikatakan, bukan sesuatu yang harus dipikirkan, harus dilihat, atau harus didengar. Sering kali, kita terjebak pada “cara mengomunikasikan” bukan pada “tujuan komunikasi”. Misalnya, tujuan komunikasi adalah pasangan memahami alasan kenapa kita melakukan sesuatu. Seharusnya, apapun cara berkomunikasi kita, jangan sampai “mencederai” tujuan komunikasi. Namun karena terbawa emosi, cara menyampaikan alasan kita justru dengan gaya yang kasar, tidak memedulikan perasaan pasangan, menghakimi, dan terkesan membenarkan sendiri. Alih-alih pasangan memahami alasan kita, yang terjadi justru api pertengkaran makin menyala-nyala.

Mari kita mengintip pola komunikasi Nabi Muhammad Saw. dalam rumah tangga beliau. Rumah tangga Nabi Saw. bukannya tanpa konflik, namun ketika berselisih Rasulullah tidak pernah melibatkan emosi. Dalam suatu kisah, ketika beliau sedang marah kepada Aisyah r.a., beliau berkata, “Tutuplah matamu!” Kemudian Aisyah menutup matanya dengan perasaan cemas, khawatir dimarahi Rasulullah. Nabi justru berkata, “Mendekatlah!” Tatkala Aisyah mendekat, Rasulullah kemudian memeluk Aisyah sambil berkata, “Humairahku, telah pergi marahku setelah memelukmu.”

Itulah contoh dari teladan terbaik sepanjang zaman. Rasul Saw. tidak meluapkan kemarahannya, namun menahannya dengan memeluk istri tercinta. Sebab tujuannya bukanlah meluapkan kemarahan, tapi meredamnya. Dan, lihatlah bagaimana beliau melakukannya dengan cara yang luar biasa. Bagaimana dengan kita? Apakah kita bisa melakukannya?

Maka, fokuslah pada tujuan komunikasi, bukan pada caranya!

Penulis, M. Nurul Furqon

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta