Hanya Sedikit Waktu

0Shares

(Pancaran.net) – Membangun budaya memaafkan adalah satu dari sekian keterampilan yang perlu kita bangun agar berhasil dalam melabuhkan bahtera rumah tangga. Selain mendidik anak-anak untuk belajar memaafkan sejak dini, ternyata kita—orang-orang dewasa—kerap kali malah harus belajar dari apa yang dilakukan oleh anak-anak, tentunya jika kita mau lebih bijak dan rendah hati dalam bersikap. Orang tua sering kali mengikutsertakan ego dan nilai dirinya yang tinggi ketika marah sehingga sulit sekali membuka hati bagi datangnya pintu permaafan. Kita selalu menunggu, siapakah yang akan mulai mengajak bicara dan berdamai duluan, dan menunggu, siapa yang akan mengakui kesalahan duluan. Tapi lihatlah, apa yang dilakukan oleh anak-anak kita saat ‘berantem’ dengan saudara mereka. Ada peristiwa-peristiwa besar yang sering tidak kita duga, tanpa sengaja, justru kita lah yang belajar dari mereka.

Saya akan menukil salah satu kisah yang ditulis oleh Bunda Neno Warisman (2008), dalam bukunya Catatan Bunda Neno Warisman: Matahari Odi Bersinar karena Maghfi. Sebuah buku parenting yang berisi kisah-kisah yang sangat dekat dengan keseharian namun sering kali luput dari perhatian. Dalam salah satu kisahnya, diceritakan bahwa terjadi pertengkaran antara putra-putri Bunda Neno. Sang Kakak, lelaki berusia 10 tahun, sedangkan adiknya, perempuan berusia 8 tahun. Karena tidak kunjung lerai—Sang Adik masih menangis, sedangkan Sang Kakak bersikap cuek saja—maka dibawalah pertengkaran ini ke ibunda mereka agar disudahi. Akhirnya, Bunda Neno merayu Sang Kakak agar meminta maaf. Kisah selanjutnya saya kutip secara utuh sebagai berikut.

Ibunya mengatakan, “Sudahkah kamu rela meminta maaf pada adikmu, Nak?” Tampaknya dia tersinggung sekali. “Hmm, yang meminta maaf belum tentu yang bersalah, kita sudah lama sepakat, bukan?” 

Yang ditanya—sambil menyeret-nyeret kursi beroda yang ia duduki—mendekat ke arah ibunya dan menyahut dengan sangat cool. Katanya begini, “Ah, Bunda, Bunda, aku tuh udah minta maaf. Betuul! Swear! Bunda nggak perlu khawatir, dia itu cuma membutuhkan satu hal saja kalau lagi begini.” Ia seperti seorang analis andal. “Maksudnya? Satu itu apa?” sahut ibu kurang paham. 

“Ah, Bunda, Bunda, Bunda ini bagaimana, sih? Katanya Bunda bilang setiap ibu tahu seluk beluk anaknya semua? Haah, Bunda ini gimana? Dengar ya Bunda, dia itu hanya membutuhkan apa coba? Ayo, apa menurut Bunda? Aku kasih tahu, ya! Dia hanya membutuhkan se-di-kit wak-tu! Ya, sedikit waktu untuk bisa memaafkan aku dan setelah itu, kami akan main bersama lagi. Kan nanti aku akan membuat gerakan-gerakan yang lucu atau cerita atau apa gitu, atau yaah aku akan pura-pura melakukan sesuatu yang menarik untuk dia atau apalah yang membuat dia tersenyum atau ketawa. Habis itu, Bunda liat deh, dia nggak apa-apa lagi, buktiin kalo nggak percaya!” urainya dengan sangat yakin.        

“Dia hanya membutuhkan se-di-kit wak-tu!”

Lihatlah, kalimat luar biasa yang diucapkan oleh anak lelaki berusia 10 tahun. Sesuatu yang sudah kita pahami sejak lama, bahkan mungkin jauh sebelum berumah tangga. Tapi, sudah sejak lama pula hilang dalam ingatan betapa ampuh dan pentingnya ‘sedikit waktu’ tersebut. Ya, kita hanya membutuhkan sedikit waktu untuk merenung, menyadari kesalahan lalu membuka kembali kesempatan. Hanya sedikit waktu untuk memahami bahwa kasih sayang yang kita miliki jauh lebih besar daripada pertengkaran-pertengkaran yang menyulut api kebencian.

Ini seperti kalam guru kami, K.H. Hasbiallah Hasyim (2019), “Bangunlah pondasi kasih sayang dalam rumah tangga. Sekuat-kuatnya. Sekuat-kuatnya. Karena, jika telah ada kasih-sayang, maka tidak ada lagi yang namanya nafkah kurang dan api pertengkaran. Yang ada hanyalah ridha, kerelaan, antara suami dan istri.”

Hanya sedikit waktu untuk mengatakan, “Ya, aku memaafkanmu”, kemudian berdiri, bertatapan mata, tersenyum, saling menghampiri, lalu berpelukan untuk saling memaafkan. []

Penulis, M. Nurul Furqon

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta