Konflik yang Menumbuhkan (Bagian II)

0Shares

(Pancaran.net)“Peace is not the absence of conflict but the presence of creative alternatives for responding to conflict—alternatives to passive or aggressive responses, alternatives to violence” (Dorothy Thompson). Damai tidak berarti nirkonflik, tetapi adanya pilihan-pilihan lain yang lebih kreatif dalam merespon sebuah konflik—pilihan untuk pasif ataukah agresif, atau juga pilihan untuk menjadikannya tindak kekerasan.

Laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan dalam mengekspresikan emosi. Sebagaimana dikatakan L. R. Brody (1996), “… adult females are more intensely verbally and facially expressive than are adult male.” Wanita dewasa lebih intens secara verbal dalam masalah emosi dan wajahnya lebih ekspresif dalam mengkomunikasikan emosi. Brody juga menambahkan, “… females are more accurate at recognizing emotional facial expression than are males.” Wanita lebih akurat dalam mengenali ekspresi emosi yang tampak di wajah daripada pria.

Karena perbedaan dalam mengekspresikan emosi itulah, seyogianya masing-masing pasangan belajar dan berlatih terus-menerus hingga mencapai titik keseimbangan. Wanita yang cenderung lebih terus terang dan lebih ekspresif dalam mengungkapkan emosi harus berlatih mengatur kapan dan di mana serta situasi apa ia bisa mengungkapkan emosinya. Sedangkan laki-laki harus berlatih untuk lebih bisa berterus-terang (asertive) dalam mengungkapkan emosinya baik secara verbal maupun dalam bentuk gesture atau ekspresi wajah.

George Bach dan Ronald Deutch (1974) memberikan beberapa saran agar konflik yang dihadapi tidak sampai menjadi “peperangan” yang menghancurkan namun bisa diarahkan pada kondisi yang lebih adil dan produktif.

  1. Spesifiklah dalam keluhan Anda dan mintalah perubahan yang reasonable untuk mengatasi hal yang sedang dipermasalahkan. Batasi hanya satu isu dalam satu waktu.
  2. Anda harus yakin bahwa Anda dan pasangan saling memahami dengan cara meminta feedback atas apa yang Anda inginkan. Terbukalah terhadap perasaan Anda sendiri dan juga perasaan pasangan Anda. Jangan berasumsi bahwa Anda mengetahui maksud pasangan Anda, tanpa menanyakan terlebih dahulu.
  3. Bersikap adil. Jangan memerintahkan pada pasangan Anda apa yang ia harus ketahui, apa yang harus ia rasakan, dan apa yang harus ia lakukan. Jengan memberi label atau menghakimi atau menggunakan kata-kata kasar. Caranya: gunakan kalimat, “Saya…”, “Perasaanku terhadap… adalah…” Jangan gunakan, “Kamu seharusnya…”, “Kamu selalu…”
  4. Tetaplah pada fokus persoalan yang sekarang sedang dihadapi. Jangan membebani pasangan dengan keluhan di masa lalu atau yang tidak relevan.
  5. Selalulah mempertimbangkan untuk berkompromi. Tidak ada pemenang tunggal dalam adu argumentasi yang jujur antara pasangan. Selalulah mengingat bahwa Anda berdua adalah tim, bukan lawan tanding. Belajarlah untuk berempati terhadap sudut pandang pasangan Anda.

Nabi Muhammad SAW. pernah memberikan nasihat terutama bagi para lelaki (suami). Beliau mengatakan, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Lelaki yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya,” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Nasihat Rasul SAW. kepada para lelaki (suami)—sebagai makhluk yang dikaruniai kemampuan menggunakan aspek logika lebih besar—mereka tidak hanya dituntut untuk tanggap dan menyadari kondisi istri, namun juga harus mampu berpikir lebih panjang dalam menanggapi pemicu konflik. Semuanya adalah pilihan, apakah pertengkaran itu akan dibawa ke arah “peperangan”, ataukah Anda (terutama bagi para suami) menyadarinya, lalu mengelola konflik tersebut menjadi pintu yang menambah kedewasaan dalam berumah tangga.

Responslah konflik dengan akhlak sebaik-baiknya. Sebaik-baiknya!

 

Penulis, M. Nurul Furqon

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta