Konflik yang Menumbuhkan (Bagian I)

0Shares

(Pancaran.net)Good battle is objective and honest—never vicious or cruel. Good battle is healthy and constructive, and brings to a marriage the principle of equal partnership. Kutipan dari Ann Landers ini untuk menegaskan bahwa pertengkaran yang baik adalah konflik yang objektif, jujur, sehat, konstruktif serta mendorong tumbuhnya pernikahan yang penuh dengan prinsip hubungan kesetaraan.

Konflik yang sehat adalah konflik yang mengarah pada tercapainya kondisi win-win solution, dimana masing-masing pihak merasakan kepuasan karena masing-masing kepentingan tetap bisa diakomodasi. Meskipun bagi banyak orang konflik menjadi sesuatu yang menguras energi dan sering dimaknai negatif, namun dengan adanya pengelolaan yang tepat, konflik justru membuat keluarga Anda lebih dinamis dan berkembang.

Pandangan dan batasan tentang hal-hal yang dikategorikan sebagai konflik juga penting untuk dirumuskan sejak awal. Hal itu terjadi karena perbedaan background keluarga, suku, kepribadian, watak, karakter, lingkungan tempat tumbuh, kualitas pendidikan, dan sebagainya. Sehingga sering terjadi, antara suami dan istri memiliki perbedaan persepsi dalam mengategorikan hal-hal yang termasuk konflik atau bukan.

Seseorang menganggap bahwa kalimat penolakan ‘tidak’ atau perdebatan kecil saja bisa disebut sebagai konflik, namun ada juga yang mendefinisikan bahwa konflik adalah perdebatan hebat hingga pertengkaran yang menguras emosi. Perbedaan definisi konflik ini perlu mencapai titik temu, sehingga akan didapatkan pengertian dan pemahaman dari masing-masing pasangan. Seberapa besar toleransi berkonflik juga perlu dikomunikasikan. Apakah sekali dalam sebulan, seminggu, atau bahkan tiap hari. Titik temu ini sangat diperlukan agar keseimbangan dalam berkeluarga bisa diwujudkan.

Izzatul Jannah (2008), dalam bukunya Psiko Harmoni Rumah Tangga menyebutkan bahwa menghilangkan konflik sama sekali dalam rumah tangga adalah mustahil, tetapi meminimalisasi konflik yang destruktif dan melakukan konflik yang konstruktif adalah mungkin, sehingga pekerjaan terbesar dalam komunikasi rumah tangga adalah melakukan dan mendorong timbulnya konflik yang konstruktif. Ia juga memberikan gambaran bagaimana keseimbangan dalam berkonflik mampu dicapai antara suami istri. Berikut ini paparannya:

“Saya dan suami termasuk orang yang berbeda dalam memandang dan menoleransi konflik. Saya memiliki toleransi yang tinggi terhadap konflik, karena memiliki keyakinan bahwa tiap orang memiliki self interest sehingga ketika dua orang dalam perkawinan (khususnya dan kelompok umumnya), berkonflik dalam upaya mencapai tujuan bersama dengan win-win solution, maka hal itu harus dilakukan. Tetapi suami saya berbeda. Ia memandang konflik sangat menguras energi emosionalnya, karena ia tipe orang yang tidak suka dengan konflik, memilih menghindar (withdrawal) daripada berkonflik. Anda bisa membayangkan jadinya bukan? Tetapi kemudian, kami membuat kesepakatan-kesepakatan tentang hal itu, sehingga saya tidak lagi terlalu ‘hobi’ berkonflik, dan suami saya lebih ‘enjoy’ dengan konflik.” 

Rumah tangga yang diselingi konflik tidak bisa dikatakan sebagai keadaan yang tidak damai. Sebab, konflik adalah sesuatu yang niscaya dan tidak bisa dihindari. Yang perlu kita lakukan adalah menemukan pilihan-pilihan kreatif dalam merespons suatu konflik. Tengoklah bagaimana Rasulullah Saw. merespons konflik dengan pilihan kreatif. Kisah ini terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Sunni. Dikisahkah, jika Rasul Saw. marah tidak pernah ada kalimat kasar dan menyakitkan yang keluar dari perkataan beliau. Rasul Saw. (lebih memilih) memijit hidung Aisyah jika marah, sambil berkata, “Wahai Aisyah, bacalah do’a: Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammd, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan.”

Jadi, tumbuh atau tenggelam, adalah tergantung dari respons kita terhadap konflik!

 

Penulis, M. Nurul Furqon 

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta