Mengembalikan Kejayaan Peradaban di Sekolah Pemikiran Islam

0Shares

JAKARTA, (Pancaran.net) – Sebanyak tujuh puluh orang peserta yang lolos seleksi Sekolah Pemikiran Islam (SPI) Jakarta Angkatan ke-10 menghadiri kelas perdananya di Aula Imam Al-Ghazali, INSISTS, Kalibata Utara, dengan antusias. Pasalnya, sekolah yang dulunya bernama SPI #IndonesiaTanpaJIL (ITJ) itu sejak awal didirikan untuk merespon tantangan pemikiran yang mendera umat Islam saat ini.

“SPI adalah respon intelektual untuk menghadapi tantangan pemikiran yang mendera umat muslim Indonesia di masa kini,” ujar Akmal Sjafril, pendiri SPI, ketika menjadi pembicara dalam pembukaan kuliah SPI angkatan ke-10, Rabu (28/08).

Alumnus Teknik Sipil ITB itu mengungkap kasus parodi terhadap Nabi Muhammad yang dilakukan oleh sekelompok orang tak bertanggung jawab di Eropa adalah contoh dari keinginan mereka agar umat Islam mengikuti langkah-langkah mereka. “Parodi Yesus di Eropa sangat banyak dan dianggap biasa bagi umat Kristen sendiri. Mereka mengharapkan respon yang sama dari umat Islam ketika parodi Muhammad dibuat,” tegasnya saat menjelaskan makna permulaan ayat ke-120 dari surah Al-Baqarah.

Sosok yang akrab disapa Ustadz Akmal tersebut juga menjelaskan visi SPI sebagai lembaga yang bercita-cita mengembalikan kejayaan peradaban Islam dengan tradisi Ilmu. Untuk membangun tradisi literasi, peserta SPI diberi dua kewajiban setiap pekannya, yaitu mengerjakan tugas reportase dan karya tulis yang berkaitan dengan tema yang dibahas di kelas.

Disamping itu, tradisi keilmuan dibangun dengan larangan merekam kuliah, memotret maupun menyalin file presentasi yang digunakan selama perkuliahan. Hal ini adalah sebentuk adab terhadap ilmu. Demikian yang disampaikan lelaki kelahiran Jakarta pada tahun 1981 ini. []