Kelana: Ber-Kelana Sejarah sambil Membatik dan Miru Jarik

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – Kelana sebuah kelompok kreatif yang menawarkan kegiatan berkelana sejarah. Kegiatan jelajah sejarah kali ini menapaki jejak- jejak keagungan budaya Jawa dan Islam era kejayaan keraton di Surakarta, khususnya seni membatik dan me-miru jarik. Kegiatan membatik dan miru batik ini berlangsung di kompleks batik Kauman, Solo pada Ahad (18/8).

Belasan peserta jelajah batik di Kawasan Kauman, Surakarta ini memulai start jelajah dari halaman parkir Masjid Agung Surakarta. Peserta dan panitia berjalan kaki bersama menuju lokasi membatik dan me-miru jarik di Batik Gunawan Setiawan. Peserta langsung diajak berlatih membatik, diawali dengan menggambar pola, memberi warna dan mengunci warna hingga mengeringkan batik.

“Kami dari Kelana mengambil filosofi bahwa berkelana itu artinya jalan- jalan, selain senang- senang tapi juga berfaedah”, ujar Faqih Annisa salah satu penggagas Kelana.

Peserta diajak untuk lebih mengenal budaya Jawa dan Islam, bahwa relasi Jawa dan Islam saling  terikat. Mempelajari sejarah dan kebudayaan Jawa dan Islam ini membuat peserta yang hadir seperti layaknya seorang turis. Karena tidak jarang kegiatan seperti ini menjadi ajang edukasi yang lebih privat bagi para peserta dari berbagai latar belakang sosial, dan daerah.

“Alhamdulillah peserta kami selain berasal dari Kota Solo ada juga dari kota lain seperti Jogja, Magelang, dan Kudus” jelas Annisa.

Peserta jelajah bersama Kelana ini sangar heterogen, latar belakang peserta berasal dari berbagai kalangan mulai dari kalangan pecinta budaya Jawa  hingga kalangan akademisi. Semua peserta sangat antusias menikmati kegiatan membatik dengan dibantu oleh pemandu dari Batik Gunawan Setiawan. Melalui praktek langsung membuat peserta lebih bisa memahami tingkat kesulitan yang dialami oleh pembatik.

Salah satu peserta kegitan jelajah bersama Kelana ialah Sudarwati (44) seorang dosen kampus UNIBA Solo. Batik bagi Sudarwati bukan hal yang baru, karena setiap hari di kampusnya seluruh civitas akademika diwajibkan mengenakan baju batik. Hanya saja pengalaman membatik, memegang canting dan malam adalah kali pertama baginya.

“Saya sering melihat kegiatan pelatihan membatik di kampus, tapi hanya sekedar melihat karena memang waktunya ngepasi jam kerja (mengajar-Red) dan itu khusus untuk mahasiswa, bukan dosen”, tutur Sudarwati di sela- sela acara jelajah.

Acara jelajah diakhiri dengan kegiatan me-miru jarik, dan berkunjung di Museum Batik Kauman. Me-miru jarik yakni kegiatan menyetrika jarik dengan tangan melalui teknis khusus yang praktis, mempertimbangkan nilai estetika pemakaian jarik sebagai busana. Skill me-miru jarik merupakan warisan dari para bangsawan keraton yang sudah memasyarakat di Jawa, baik Surakarta maupun Yogyakarta. [KS]