Anak Latihan Puasa, Ini yang Harus Diperhatikan Orang Tua

0Shares

JAKARTA – Usia berapa yang tepat untuk melatih anak berpuasa? Menurut dr Arifianto SpA, tidak ada usia yang bisa dijadikan standar.

Orang tua tak dapat menyamaratakan anak saat melatihnya berpuasa. Bahkan, antara kakak-adik kandung pun, usia kesiapan berpuasanya bisa berbeda.

“Akan tetapi, anak memang perlu dilatih berpuasa sebelum akil balig agar saat memasuki usia wajib berpuasa, dia telah siap,” kata Arifianto. Seperti dilanir republika.

Arifianto menjelaskan, usia akil balig bagi anak perempuan cenderung lebih cepat, sekitar umur 10 tahun. Sementara itu, usia akil balig anak laki-laki sekitar umur 12 tahun.

“Hal yang paling penting diperhatikan saat melatih puasa adalah kesediaan sang anak untuk berlatih,” kata dokter spesialis anak yang akrab disapa Apin ini.

Meskipun tidak ada patokan usia, Apin mengatakan, biasanya seorang anak sudah siap berlatih puasa di umur lima tahun. Bahkan beberapa artikel ilmiah menyebutkan bahwa tubuh sudah siap berpuasa di umur tiga tahun bahkan lebih muda lagi.

“Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan orang tua selain kesiapan tubuh anandanya untuk menahan lapar,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pemilik akun Twitter @dokterapin ini.

Menurut Apin, orang tua perlu mencermati asupan gizi dan pola tidur anaknya. Ayah dan ibu harus bersiap mengawal pemenuhan kebutuhan nutrisi dan kecukupan tidur buah hatinya.

Terkait nutrisi, Apin mengungkapkan, anak biasanya mengkonsumsi cairan lebih sedikit. Hal itu membuat mereka rentan sembelit.

“Untuk mengantisipasinya maka perlu diberikan makanan berserat, seperti sayur dan buah,” kata Apin.

Soal pola tidur, Apin mengatakan, jam tidur anak otomatis berkurang selama Ramadhan. Di samping ikut shalat tarawih yang membuat tidurnya lebih larut, anak juga harus bangun dini hari untuk sahur.

Bagi anak usia sekolah dasar, jumlah waktu tidur ideal adalah delapan jam. Oleh karena itu, jika saat malam hari jam tidur anak berkurang maka hal itu bisa ditambah saat siang hari.

“Usahakan kekurangan jam tidur saat malam hari ditambal dengan menambah waktu tidur sebelum sekolah atau sesudah pulang sekolah,” ucap penulis buku Orang Tua Cermat Anak Sehat ini.

Untuk memudahkan anak bangun sahur, Apin mengatakan, anak perlu dilibatkan dalam mengambil keputusan dalam menentukan menu sahur. Dengan begitu, si kecil akan lebih antusias menyambut waktu sahur.

“Jadi sebelum tidur ditanya dulu, besok mau sahur pakai apa,” tutur Apin. []