FEB UNS Gelar Diskusi Sinergitas Fintech dalam Konsep Syariah

0Shares

SOLO, (Pancaran.net) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Bank Syariah Mandiri bekerja sama menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertemakan Sinergitas Fintech dalam Konsep Syariah, di UNS Inn, Kampus UNS, Solo, Sabtu (10/8). Diikuti akademisi UNS dan perguruan tinggi se eks Karesidenan Surakarta, bankir dan Ormas Islam.

“Tujuannya untuk meningkatkan awareness masyarakat muslim terhadap eksistensi industri keuangan syariah dan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di industri keuangan syariah yang bersinergi dengan Fintech,” jelas Ketua Panitia Pelaksana Johadi SE MSc. Demikian dilansir timlo.

Tampil sebagai keynote speakeradalah Advisor Strategis Committee dan Pusat Riset Otoritas Jasa Keuangan (OJK) RI Achmad Bukhori. Pembicara di antaranya Anggota Badan Pengelola Keuangan Haji Iskandar Zulkarnain SE MM, Direktur Eksekutif Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Erwin Haryono dan Akademisi FEB UNS Irwan Trinugroho SE MSc.

Lebih lanjut Johadi mengemukakan, pasar untuk pengembangan industri keuangan yang berbasis syariah sangat potensial. Jumlah penduduk muslim di Indonesia mencapai 208 juta jiwa memperkuat bukti besarnya potensi pasar yang dapat dimanfaatkan oleh industri keuangan syariah.

Sementara itu, dari jumlah 208 juta jiwa, hanya 74,88 juta penduduk muslim yang mampu mengakses industri keuangan, sedangkan 133,12 juta jiwa tidak mampu menggunakan produk dan layanan yang disediakan oleh industri keuangan utamanya perbankan.

Ketidakmampuan tersebut, menurut Johadi, bisa disebabkan oleh berbagai hal baik yang sifatnya teknis maupun nonteknis. Selain itu, kesiapan kelembagaan di industri keuangan syariah baik dari sisis sumber daya manusia, regulasi, infrastruktur dasar dan keandalan dalam penggunaan teknologi keuangan merupakan prasyarat untuk mencapai target pasar tersebut.

“Mengacu pada hal tersebut, pengembangan industri keuangan syariah masih sangat terbuka,” ujarnya.

Beberapa cara yang perlu dilakukan, kata Johadi, antara lain, pertama, meningkatkan awareness masyarakat muslim terhadap produk dan jasa yang disediakan oleh industri keuangan syariah. Kedua, ketersediaan produk dan layanan serta standarisasi produk yang belum memenuhi ekspektasi pasar atau masyarakat muslim.

Ketiga, penguatan regulasi yang terkait dengan pemodalan, variasi produk layanan, efisiensi produksi dan pengawasan inherent dan mandatory yang lebih baik. Ketiga cara tersebut diyakini efektif dalam meningkatkan peran industri keuangan syariah yang bersinergi dengan pemanfaatan teknologi keuangan. []