Masjid Al Fatih Kepatihan

0Shares

SOLO – Masjid Al Fatih di Kepatihan didirikan 1312 H atau 1891 M. Masjid ini dibangun oleh Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV, Pepatih Dalem, atas perintah Pakubuwono X. Konon, pembangunan masjid ini sebagai mahar lamaran PB X kepada salah satu istrinya.

Semula bangunan masjid tersebut hanyalah satu ruangan saja, yang sekarang menjadi ruang sholat utama. Di dalam ruang utama sholat ditopang 4 soko guru kayu jati. Seperti pada Masjid Agung Surakarta, di kanan kiri mihrab masjid Al Fatih terdapat jendela yang besar terbuat dari kayu jati dan diberi tralis.

Mimbar berukiran seni yang tinggi, diletakkan di dekat jendela sebelah utara yang berdekatan dengan pintu menuju ke pawestren. Di mimbar itu terdapat ukiran berbentuk buah srikaya. Filosofinya agar siapa pun yang memberikan khotbah hendaknya yang penuh isi atau kandungan materi yang disampaikan berisi penuh seperti apa yang telah dituntunkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Bangunan serambi masjid Al Fatih ini ditopang 12 soko guru kayu jati yang berukuran lebih kecil. Serambi ini berbentuk limasan terbuka, sehingga terasa sejuk bila berada di serambi ini.

Pintu tengah yang selurus dengan mihrab, memiliki kaligrafi yang berbunyi Allah dengan tambahan ornamen ukiran daun kecil-kecil. Di sebelah kanan dan kiri pintu utama terdapat pintu juga yang mempunyai kaligrafi bertuliskan Muhammad.

Pintu yang berada di sebelah utara dan selatan dari pintu itu masih ada pintu lagi. Kedua pintu itu juga di atasnya terdapat kaligrafi yang bertuliskan empat orang khalifah pertama agama Islam, yang dipercaya kepemimpinan setelah Rasulullah wafat. Empat orang yang dikenal dengan Khulafaur Rasyidin itu adalah Abu Bakar, Utsman bin Affan, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib.

Atap masjid Al Fatih tidak berbentuk kubah yang merupakan ciri bangunan Timur Tengah. Atapnya berbentuk tajug tumpang, seperti kebanyakan masjid tua yang berhubungan dengan kekuasaan kerajaan. Kemudian ada penambahan mustaka pada atap masjid, yang melambangkan ma’rifat. Ma’rifat itu sendiri adalah tingkat penyerahan diri kepada Allah secara berjenjang, secara tingkat demi setingkat sehingga sampai kepada tingkat keyakinan yang kuat. []

 

sumber: @solozamandulu