Fenomena Berulang Kali Umat Islam Gagal Mendapatkan Pemimpin Ideal

0Shares

JAKARTA – Berkali-kali gagal, kok tidak kapok? Demikian pertanyaan yang sering muncul saat Umat merindukan sosok pemimpin muslim ideal yang akan memimpin bangsa dan negara yang kita cintai ini.

Pertanyaan tersebut itu tidak hanya datang dari kalangan penolak sistem Demokrasi, tetapi dari pendukung demokrasi itu sendiri yang telah sadar akan hakikat demokrasi dan ini sering muncul dalam benak kita. Lantas pertanyaan sederhana muncul: “Apakah rela musuh-musuh Islam memberikan jalan untuk memegang kekuasaan kepada kekuatan Islam?”. Jawabnya juga simpel: Tidak mungkin lah!

Tapi sayangnya dari dulu mayoritas pemuka/tokoh umat ini terus tergiur dengan model yang satu ini (demokrasi) untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal mereka sering membaca sirah Rasul SAW dan sejarah dakwah sejak periode Makkah, Madinah hingga Fat-hu Makkah.

Kemudian setiap kali muncul persoalan baru, setelah gagal pada perjuangan sebelumnya pasti ada dalam pikiran kita: “Coba dulu yang ini, mungkin beda dari yang lalu”.

Begitulah seterusnya entah sampai kapan. Untuk itulah redaksi telah meminta tanggapan dan komentar dari DR Daud Rasyid, seorang Tokoh Ulama yang juga seorang ahli Hadist di Indonesia yang sangat konsen terhadap perjuangan Umat Islam dari dulu sampai dengan saat ini.

“Bila diperhatikan Rasulullah Saw dalam dakwahnya hanya menempuh cara “ad-da’wah wal-jihad”. Rasul mentarbiyah Sahabat di Makkah setelah itu baru menampakkan “wajah”nya di Madinah, maka berdirilah Negara. Setelah memiliki kekuatan riil, eksistensi, baru Rasul melakukan negosiasi. Sekarang, umat tidak punya kekuatan apa-apa, melainkan hanya kerumunan, sudah melakukan negosiasi, diplomasi dan sejenisnya,” tutur DR Daud Rasyid

Masih menurut Daud Rasyid lagi, dalam hal figur juga umat ini tidak pernah mau belajar dari pengalaman masa lalu, baik di dalam ataupun di luar negeri. Pertanyaan berikutnya dari beliau adalah : Bagaimana mungkin umat mempercayakan perjuangannya kepada seseorang yang bukan kadernya dan bukan hasil didikannya? Umat dan figur yang muncul itu hanya ketemu di jalan.

Lalu melakukan transaksi besar. Begitulah kira-kira perumpamaan pentas politik dari zaman ke zaman. Umat pun berkata: “Anda kami percayakan membawa tugas dakwah ini untuk kejayaan Islam.” Kira-kira hasilnya sudah bisa dibayangkan dari awal atau berharap ada sesuatu yang akan terjadi di luar hitungan akal?

Musuh-musuh Islam itu melakukan pengkaderan dan pembinaan yang kuat, terencana untuk membangun sistem yang batil. Seharusnya umat Islam melakukan lebih dari itu,” tandas beliau lagi.

Memang jawaban sederhana adalah memang hanya itu pilihannya di hadapan umat. Tidak ada alternatif lain. Apakah fenomena ini juga merupakan rekayasa musuh? Dari zaman ke zaman, umat dihadapkan pada “tidak punya pilihan lain?” Apakah sudah begitu taqdirnya?

Kalo soal kemampuan, anak-anak umat ini menurut DR Daud, bahwa kita surplus dalam hal SDM. Tapi mungkin ujung-ujungnya soal fulus (biaya). Siapa yang sanggup mendanai proyek besar itu.

Jadi menurut Ulama yang pernah menjadi Imam Besar Masjid al-Hikmah, New York tersebut adalah, pelajaran demi pelajaran terbentang di hadapan kita, mulai dari Aljazair, Turki, belakangan ini Mesir dimana Presiden yang sah secara demokrasi bisa digulingkan, dan yang paling akhir ialah di sekitar kita.

Kesimpulannya ialah jangan berharap pada orang yang bukan hasil didikan ideologis umat.

Pertahanan hakiki hanya pada manhaj Rasul dalam tarbiyah wal-jihad. Tumpahkan segala potensi untuk pembinaan dan pembinaan lanjutan berikutnya. Hanya dengan pola (manhaj) Nabawi ini Allah Saw akan percayakan kejayaan itu pada umat ini.

“Lalu apakah lapangan politik formal ditinggalkan? Tentu tidak, tapi bukan menjadikan bidang yang satu ini sebagai tumpuan perjuangan. Akan kecewa terus. Karena pengendali “game” itu bukan umat, bahkan musuh umat. Lebih tepatnya game itu adalah jebakan yang diciptakan oleh musuh untuk mengalihkan perhatian umat,” pungkasnya. []