Indonesia Krisis Budaya Literasi

0Shares

WONOGIRI – Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Wonogiri menyelenggarakan acara diskusi yang diberi tema, Festival Literasi dan Pelatihan Kepenulisan. Ahad (14/7). Acara yang diselenggarakan di sebuah rumah makan di daerah Ngadirojo tersebut diikuti ratusan peserta.

Hadir dalam kegiatan tersebut Danang Febriansyah (penulis Novel Arundaya) dan juga Ketua FLP Pusat Afifah Afrah.

Dalam pemaparannya Danang Febriyansah lebih memfokuskan pada pengalaman dalam menulis berikut tips dan trik menjadi seorang penulis yang bagus.

“Tips menjadi seorang penulis yang bagus itu syaratnya ada 3. Pertama adalah menulis, kedua menulis dan ketiga menulis,” ujar penuilis asal Bulukerta tersebut.

Sementara itu Afifah Afra yang didaulat menjadi pembicara inti, lebih menyoroti dunia kepenulisan secara makro.

“Literasi meliputi berbagai disiplin ada di bidang teknologi komunikasi dan informasi, since, seni budaya, dan hamper semua ilmu pengetahuan,” kata penulis 60 judul buku itu.

Afifah menambahkan para pegiat literasi, agar sadar pentingnya budaya literasi. Baca tulis. Itu yang harus dibangun terlebih dahulu. Sebagai pondasi. Bukan membangun jalan tol dan pembangunan fisik lain.

Saat ini Indonesia mengalami krisis pemimpin yang kurang cinta literasi, berbeda dengan para tokoh pendiri bangsa.

“Jaman dulu ada Bung Hatta sangat mencintai buku, sehingga saat ia mau diasingkan ke Digul Bung Hatta membawa begitu banyak peti yang berisi buku. Begitu pula tokoh lainnya seperti Soekarno, Syahrir, M Natsir, Buya HAMKA dan masih banyak lagi,” katanya.

Jadi yang dibutuhkan manusia beradab dan berkeadilan. Ini soal paradigma. Literasi harus menjadi paham sehingga bisa memilih baik buruk. Ini gerakan fundamental,” katanya. Ada tahapan. Yaitu tradisi lisan, tulisan/aksara, audiovisual, dan intetnet. Aneh. Nah, di Indonesia terjadi loncatan. Tak beraturan. Belum tradisi lisan-tulisan, loncat ke tradisi internet-an.

Sesungguhnya, pemanfaatan medsos di Indonesia masih tradisi lisan yang meminjam huruf. Terkesan tergesa-gesa, tanpa referensi, tampa tabayun, spontan (asal njeplak). Indonesia literasinya masih lisan.

Karena itu, Afifah mengajak tradisi medsos dirubah menjadi tradisi literasi. Bukan main-main. “Maka harus sungguh-sungguh. Terjun dan berenanglah sedalam-dalamnya. Literasi adalah nafas hidup kita,” tegasnya.

Selain mengadakan acara diskusi dalam kesempatan tersebut juga digelar bazar buku. []